Halaman

Tampilkan postingan dengan label Fan Fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fan Fiction. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Desember 2011

-Aku kepergok jatuh cinta-

Ratu Sweethella & Reza Anugrah



Author: Chastfa Delion

Title: Aku kepergok jatuh cinta
Genre: Romance

Main cast:
- Charista Estelle Fairylovva as Fairy
- Muhammad Reza Anugrah as Reza

Other cast:
- Priskalia Angelita as Priska
- Rafrie Fannia Putri as Rafrie
- Rafael Landry Tanubrata as Rafael

-cerita ini hanya fiktif belaka-


Siang yang begitu panas membuatku harus menikmatinya. Suara bising bergemuruh memekikkan telinga. Entah apa yang mereka lakukan yang pasti ku tahu mereka tak mungkin mendengarkan pelajaran yang begitu membosankan ini.

Matematika adalah pelajaran yang paling ku benci. Aku sungguh tak menikmatinya. Seperti saat ini. Aku hanya memainkan pensilku memutarnya tak beraturan di meja. Aku ingin pelajaran membosankan ini segera berakhir. Rasa kantuku tiba-tiba saja muncul. Dan lengkaplah sudah aku sungguh ingin keluar dari tempat ini.

Ku tatap sekelilingku. Masih seperti semula dengan kesibukan masing-masing. Mereka sama sepertiku tak memperhatikan pelajaran. Mungkin mereka bosan. Apalagi dengan guru yang sungguh menyebalkan. Setelah asyik menyapu keadaan sekelingku aku pandangan mataku pun tertuju pada arah luar.

Rabu, 09 November 2011

Nimona’s Story



Rangga Dewamoela Soekarta
Author: Chastfa Delion

Main cast:
- Nimona Nikimmy Otawa as Nimona
- Rangga Dewamoela Soekarta as Rangga
- Charista Estelle Fairylovva as Fairy

Seorang gadis berambut panjang hitam itu tak beralih menatap apa yang ada dihadapannya. Sesekali senyumnya terukir mengiasi wajah manisnya. Kedua lesung pipitnya semakin membuat gemas siapa saja yang melihatnya. Ia sama sekali tak beralih pandang bahkan matanya sedikit pun tak berkedip.

DOR!!!
Brakk. Disaat itu juga tanpa ia sadari kepalanya menghantam pintu yang sedari tadi menjadi tempat persembunyiannya. Suara itu berhasil membuatnya kaget. Hingga hadiah kecil namun, sukses membuatnya meringis didapatkannya. Gadis itu tampak menoleh dengan tangan masih memegang kepalanya yang memerah dan terasa cenat cenut.

Seutuh Cintaku (CERPEN)

Bisma Karisma


Author: Chasfa Delion

Title: Seutuh Cintaku

Main cast:
- Theresia Kimmy Sandioriva as Tere
- Bisma Karisma as Bisma
- Felicia Adinda Renata as Felicia

*cerita ini hanya fiktif belaka*




Aku duduk termenung sendiri disini. Ditempat dimana aku selalu melakukan hal yang menyenangkan dengannya. Dengan orang yang sangat aku cintai. Tapi, kali ini berbeda ku rasa. Aku tak lagi merasakan kebahagiaan dengannya. Melainkan, kepedihan yang tiada terkira rasanya.

Cukuplah Sudah –CERPEN

Muhammad Ilham Fauzie

"Sayang aku minta maaf ya?" Ilham menggenggam erat tanganku.

Aku mengernyitkan kening. Apa maksudnya? Kenapa dia minta maaf? Aku merasa dia tak pernah punya salah padaku.

"Minta maaf? Buat apa sayang? Kamu kan nggak salah." ujarku.

"Iya sih. Tapi, aku cuma pengen minta maaf aja kok." Ilham tersenyum manis.

Aku masih bingung dengan kata-kata Ilham tadi. Tapi, ya sudahlah tak ada yang perlu dipikirkan.

"Nggak nyangka ya kita udah hampir dua tahun." aku tersenyum mengingat hubunganku dengan Ilham sebulan lagi sudah berusia dua tahun.

"Iya sayang, aku juga seneng banget." tambah Ilham. Beberapa menit kemudian makanan pesanan kami datang. Seperti inilah kebersamaan yang selalu kami jalani saat kami sama-sama mempunyai waktu senggang.

Di restaurant ini Ilham selalu mengajaku makan. Menyantap makanan kesukaan kami berdua. Bercengkrama dan bercanda tawa bersama. Aku memang beruntung punya pacar seperti Ilham.

***

"Detha.... " Aku mendengar seseorang dari kejauhan memanggil namaku.
Aku pun segera menoleh dan mendapati Angel sahabatku berlari kearahku. Sejurus kemudian tangannya telah merangkulku dan berjalan bersejajar denganku.

"Cie.. Kemarin dari mana aja nih? Ngiri gue sama lo." Angel menggodaku. Aku tersenyum misterius padanya. Sengaja aku tak menjawab pertanyaannya karena aku ingin dia makin penasaran.

"Ikh.. Apaan malah senyum-senyum nggak jelas gitu?" Angel mencubit pelan pipiku.

"Ya gitu deh. Makanya cari pacar donk biar nggak jomblo terus." Aku mencibir padanya kemudian melanjutkan langkahku. Aku tersenyum puas melihat bibir Angel manyun beberapa centi. Dia memang sahabat terbaiku. Tapi, yang membuat ku heran kenapa sampai sekarang ini dia masih betah menjomblo. Padahal, kami ini sudah kelas XII SMA. Aneh bukan?

"Mentang-mentang yang udah punya pacar. Seenaknya aja ngatain sahabatnya." Angel kembali menyejajari langkahku. Tentu dengan wajahnya yang terlihat kesal. Aku terkikik dibuatnya.

"Angel.. Sayang, jangan ngambek donk. Gue kan cuma bercanda."
"Oke. Gue nggak akan ngambek. Kalau lo mau temenin gue ke kantin."
tanpa basa-basi Angel menarik tanganku untuk mengikuti langkahnya.

"Eh.. Apaan nih, maksa banget. Udah mau bel hlo." ujarku padanya.

"Udah ah. Biarin. Gue laper nih tadi belum sempet sarapan." Angel terus melangkah. Dan terpaksalah aku mengikutinya berjalan. Bukannya kami segera masuk ke kelas. Tetapi, justru kami berbelok arah menuju kantin sekolah. Huft.. Itulah sifat Angel selalu saja membuatku sedikit repot setiap paginya. Karena, ia selalu memintaku untuk mengantarkannya ke kantin saat pagi hari. Hal itulah yang sering membuat kami telat masuk kelas.

***

Sudah satu jam lamanya Aku menunggu Ilham di depan gerbang sekolah. Dan sampai saat ini dia belum juga datang untuk menjemputku. Entah sudah berapa kali aku menengok jam tangan yang terlilit dipergelangan tangan kiriku. Sungguh rasanya bosan sekali aku menunggu dirinya. Kami memang berbeda sekolah. Namun, jarak sekolahku dengan Ilham tidak terlalu jauh. Mungkin dengan waktu sepuluh menit saja sudah bisa sampai di sekolahku. Tapi, ini? Ah.. Mungkin dia sibuk.

Memang sih bukan hari ini juga aku harus setengah mati menunggunya. Beberapa hari terakhir dia juga selalu telat menjemputku.

Beberapa saat kemudian aku melihat sebuah motor ninja merah mendekat padaku. Kemudian berhenti tepat didepanku. Si empunya motor langsung membuka helmnya. Dan dapat terlihat jelas ia adalah Ilham.

"Lama banget sih?" aku menunjukkan wajah kesalku.

"Maaf ya sayang, tadi di sekolah lagi ada rapat OSIS gitu." jelas Ilham.
Aku hanya diam.

"Jangan ngambek donk." godanya padaku dengan senyum nakalnya. Aku tersenyum melihat tingkahnya. Kemudian ia ikut tersenyum melihatku. Seperti itulah sosok Ilham ada-ada saja tingkahnya yang membuatku tak bisa marah dengan cowok ini. Dia memang mengerti banyak tentang diriku.

"Ya udah deh. Yuk naik!"

Aku pun segera menuruti perintahnya. Selah beberapa saat Ilham telah melajukan motor kesayangannya ini.

***
Malam minggu malam yang sangat menyenangkan saat kita bisa bersama orang yang begitu berarti. Jalan-jalan, nonton film atau melakukan hal lainya bersama orang yang spesial. Tapi, tidak untukku di malam minggu kali ini. Aku tak pergi keluar bersama Ilham. Melainkan aku hanya duduk termenung di atas balkon rumahku. Tanganku tak henti memutar-mutar handphoneku yang sedari tadi ku genggam. Aku menunggu sms dari Ilham. Namun, sedari tadi tak ku dapati sms dari Ilham.

Tiba-tiba saja tanganku dengan lincah memencet tombol keypad. Ku cari kontak nomor Dicky, sahabat Ilham. Aku ingin bertanya pada Dicky apakah dia sedang bersama Ilham atau tidak.

To: Dicky
Malem Dick???

From : Dicky
Malem juga,, ada apa Det? Tumben lo sms gue

To : Dicky
Eh.. Ini, gue mau tanya lo lagi sama Ilham nggak?.

From : Dicky
Nggak Det, dia nggak sama gue. Oh.. Mungkin dia lagi pergi cari bahan-bahan buat kegiatan Osis sama Fely.

to: Dicky
Fely? Temen sekelas kalian?

From: Dicky
Iya. Jadi, lo nggak tahu kalau mereka sering jalan bareng?

To: Dicky
Gue nggak tahu Dick. Dia nggak pernah bilang kalau pergi sama Fely. Apa dia punya hubungan sama Fely??

Setelah sms itu terkirim aku begitu berdebar menunggu sms balasan dari Dicky. Entah mengapa perasaanku menjadi kacau mendengar Ilham pergi bersama Fely tanpa sepengetahuanku. Lama sekali Dicky membalas smsku. Membuatku semakin penasaran dengan semua itu. Baru pada sepuluh menit kemudian ku dapatkan sms dari Dicky.

From: Dicky
Em.. Sorry ya Det, gue kira lo udah tahu :'( oh ya udah dulu ya gue sibuk nih. Bye..

To: Dicky
Dick, lo belum jawab pertanyaan gue. Sebenernya ada hubungan apa mereka berdua?? :'(

Send. Aku mengirimnya.
Setelah itu Dicky bagai hilang ditelan bumi. Ia tak juga membalas smsku. Handphonenya pun mendadak tidak aktif saat hendak ku telepon.

Deg. Hatiku mendadak sakit bagaikan tertusuk pisau tajam. Apa arti semua ini? Kenapa Dicky tak menjawab pertanyaanku. Jangan-jangan ia memang sengaja ingin menyembunyikan sesuatu dariku.
Perasaanku semakin kacau mengingat nama Fely begitu melekat di memory otakku. Dia adalah gadis yang pernah singgah di hati Ilham. Saat kami belum resmi berpacaran. Namun, saat itu aku yakin Ilham belum sepenuhnya melupakan Fely. Aku benar-benar yakin akan hal itu. Dan sekarang ini aku benar-benar sakit dengan perlakuan Ilham. Kenapa selama ini ia tak pernah bicara padaku saat ia akan pergi bersama Fely. Kenapa? Apa ada hal lain yang ia sembunyikan dariku? Mungkinkah masih ada sedikit perasaannya untuk Fely.

***

Sore ini aku janjian ketemu dengan Ilham disebuah cafe. Aku sengaja berangkat sendiri tanpa Ilham yang menjemputku. Sudah sepuluh menit aku duduk di meja nomor 20 tempatku menunggu Ilham. Sebagai penghilang rasa bosan aku memesan juice jeruk.

Selang beberapa saat ku lihat Ilham datang dengan senyumnya yang mengembang menghampiri meja tempatku duduk.

"Hay sayang? Udah lama ya nunggunya?" Ilham langsung mengambil posisi duduk di kursi. Aku hanya tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaannya.

Ilham pun memanggil seorang waiters untuk memesan makanan. Waiters itu pun menghampiri kami.

"Kamu tadi udah pesen makan?" tanya Ilham sembari membuka-buka daftar menu yang tersedia. Aku menggeleng pelan.
Ilham terlihat bingung dengan sikapku. Segera saja ia meletakkan daftar menu tersebut di meja.

"Em.. Mbak, sepertinya saya belum mau pesen. Nanti aja ya." ujar Ilham pada waiters itu.

"Oh.. Baik mas." waiters itu pun melenggang pergi.

Ilham menatapku dengan wajah penuh tanda tanya. Aku melengos tanpa mempedulikannya. Tangannya bergerak meraih tanganku. Namun, begitu saja ku tepis tangannya. Ilham semakin tak mengerti dengan sikapku.

"Kamu kenapa sayang? Kamu sakit."

Aku hanya diam.

"Det, aku punya salah apa sama kamu? Kenapa kamu diamin aku kaya gini? Kamu marah?" tanya Ilham lagi.
Aku pun segera menatapnya dengan wajah begitu dingin.

"Tadi, malam kamu kemana aja?" aku bertanya dingin.

"Ta.. Tadi malem? A.. Aku sama Dicky lagi ada urusan gitu sama anggota OSIS." Ilham terlihat gugup.
Namun, dapat kulihat senyum yang masih melekat dibibirnya.

"Dicky? Kamu nggak bohongin aku kan?" aku menatap sinis pada Ilham.

Ilham terlihat diam tak menjawab pertanyaanku. Sorot matanya sedikit takut mulai menatapku.

"Kamu bohong ham, kamu tadi malam pergi sama Fely, kan?" tanyaku lagi. Ilham tersentak kaget.

Aku tersenyum sinis lagi melihat ekspresi kekagetan Ilham.

"K.. Kamu tahu dari mana?" tanyanya gugup.

"Itu nggak penting. Dan yang aku tahu sekarang, kamu udah bohongin aku selama ini. Kenapa kamu sembunyiin ini dari aku ham? Kenapa kamu diam-diam jalan sama Fely?" mataku berkaca menunggu jawaban Ilham.

Tanpa menjawab ia langsung meraih kedua tanganku kemudian menggenggamnya erat. Bibirnya terlihat bergetar hendak mengatakan sesuatu.

"Det, maafin aku. Aku emang jalan sama Fely. Aku khilaf Det. Aku mohon maafin aku." ujar Ilham. Aku sungguh tak percaya dengan ucapan Ilham itu. Kenapa semudah itu dia menjawab pertanyaanku. Dan semudah itu ia meminta maaf karena ia memang sering jalan bersama Fely tanpa sepengetahuanku. Itu artinya semua itu memang benar.

Air mataku yang sedari tadi ku tahan akhirnya tumpah.

"Kenapa kamu nggak pernah bilang sama aku ham. Kenapa? Hiks.. Hiks.."

"Maafin aku Det, aku khilaf. Sungguh aku nyesel ngelakuin ini." ia terus menggenggam erat tanganku.

Ku hela nafas sebentar. Aku tak dapat berkata lagi padanya. Ku hempaskan tangan Ilham yang masih menggenggam tanganku.

"Detha.." panggilnya saat aku berdiri. Aku tak kuat lagi berada disisinya. Aku ingin pergi darinya. Meninggalkan dirinya setidaknya setelah aku bisa lebih tenang.

"Aku mau pulang." liriku dengan nafas yang sesenggukan karena tangis.

"Aku anter ya?" Ilham menahan tanganku.

"Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri." ku lepaskan tangannya yang menahanku itu. Kemudian segera pergi meninggalkan Ilham.

***

Beberapa hari setelah itu aku sudah sedikit melupakan. Walaupun rasa sakit itu tak ayal masih tersisa. Namun, aku tak tega dengan Ilham. Ia terus saja meminta maaf padaku.
Dan ia pun telah berjanji agar tak lagi melakukan hal itu padaku. Bahkan, ia akan melupakan segala yang pernah terjadi dengan Fely. Menjauhi Fely dengan semua kenangan masa lalunya demi aku. Aku pun memberikan kesempatan padanya. Karena, dari dasar hatiku aku sangat menyayaginya. Walaupun kejadian itu membuatku terpukul. Sebisa mungkin aku akan melupakan semua itu.

Siang itu aku iseng-iseng membuka akun facebook. Untuk sekedar menghilangkan rasa bosanku karena tak ada teman. Semenjak kejadian itu aku memang agak sedikit diam dan menjaga jarak dengan Ilham. Agar kami bisa sama-sama menenangkan diri.

Aku pun mengetik sebuah status di akun facebookku.

Detha Devianita:
Masihkah aku bisa mencintaimu seperti dulu??

Aku terus membiarkan tanganku menari-nari diatas keyboad laptopku. Dan saat itu ternyata ada yang mengirim pesan padaku tak lain adalah kak Reza. Kak Reza memang orang yang tak asing lagi denganku. Dia adalah Kakak Ilham.

Reza Anugrah
..lagi ada masalah apa sih Det?

Detha Devianita
..eh kakak. Lama nggak ketemu ya? Hehe..
Biasalah aku lagi ada sedikit masala
h.

Reza Anugrah
..gara2 ilham y?

Detha Devianita
Iya kak. Beberapa hari yang lalu aku lagi berantem sama dia. Dia selingkuh dibelakang aku.

Reza Anugrah
Huft.. Maafin kakak ya Det, Ilham udah nyakitin kamu. Sebenernya kakak udah tahu kalau Ilham jalan sama Maura :'(

Deg. Lagi-lagi aku harus merasakan sakit untuk yang kedua kalinya. Maura? Siapa lagi dia?
Kenapa ada nama asing lagi pada hubungan kami. Jadi, bukan hanya Fely yang menjadi pelarian Ilham melainkan ada yang lain lagi yaitu Maura.

Detha Devianita
:'( Kakak tahu itu dari mana?

Sungguh ini pertanyaan menyakitkan. Aku pura-pura tegar dan bertanya seperti itu. Pada kenyataannya aku baru tahu sekarang nama itu. Dan itu semua terlontar dari kak Reza sendiri. Jadi, dapat di pastikan itu bukan bohong belaka.

Reza Anugrah
Dulu Maura sering di ajak pulang Ilham Det, tapi nggak tahu sekarang dia nggak kelihatan lagi.

Detha Devianita
Sejak kapan kak?

Reza Anugrah
udah lama sih. Sekali lagi kakak minta maaf ya Det, kakak baru berani ngomong sekarang.

***

Perih itu perlahan sirna ketika waktu berjalan kedepan. Bayangan kelam kesenduan pun telah bertebar tiada sisa dan hampir hilang. Tapi, mengapa disaat semua itu hampir hilang. Semua itu datang kembali menyergapku dalam ruang sepi yang begitu memedihkan.

Sudah beberapa jam aku menjauhkan diriku dari segala keramaian. Aku meringkuk memeluk lututku dalam tangisan yang hampir tak terdengar disebuah ruang. Ruang dimana aku menghabiskan waktuku setiap harinya, di kamarku.

Tak ada gunanya semua ini. Aku tak selamanya akan seperti ini. Aku lelah dengan semuanya. Lelah menangisi perjalanan cinta yang penuh dengan penghianatan. Aku harus mengakhiri semua ini.

Entah aku mendapat dorongan dari mana. Sekarang aku telah berdiri di halaman sekolah Ilham. Aku mengirim pesan pada Ilham agar menemuiku siang ini. Tapi, ternyata aku tak melihatnya. Aku pun berpikir untuk mencarinya ditempat biasanya bermain basket.

Aku berdiri mematung. Dapat ku lihat sekarang Ilham yang perlahan mendekat padaku. Tangannya menenteng sebuah bola basket. Mungkin ia heran dengan kedatanganku siang ini. Itu dapat ku lihat dari sorot matanya.

Sebelum itu aku sempat melihatnya bercengrama dengan beberapa gadis. Aku panas dibuatnya namun ku tahan semua itu.

Kini kami saling berhadapan dalam diam. Aku tak mau memulainya. Dan entah mengapa Ilham juga tak mau memulai pembicaraan.

"Siapa Maura?" tanyaku datar. Namun, sukses membuat Ilham tersentak kaget.

"Siapa dia? Selingkuhan kamu?" suaraku meninggi.

"Det.... " wajah sayu Ilham tersirat penuh penyesalan atau mungkin hanya aktingnya saja. Aku tak tahu.

"Aku kecewa banget kali ini. Ternyata, kamu memang.... " kalimatku tertahan karena butiran-butiran kristal dari mataku telah tumpah seketika.

"Maafkan aku Det, aku salah. Aku khilaf ngelakuin itu semua." bola yang ia pengan telah jatuh. Tangannya kini memegang kedua lenganku. Ia menatapku penuh penyesalan. Tak ku balas tatapannya. Aku menunduk dalam tangisan.

"Kenapa kamu tega ham? Apa salahku sama kamu?" ujarku sesenggukan.

"Kamu nggak salah Det, aku yang salah udah jahat sama kamu. Aku minta maaf."
Ku tepis tangannya kemudian mataku menatap Ilham penuh kebencian. Aku benar-benar sudah muak.

"Semua ini udah cukup ham. Aku mau kita putus." ucapku padanya. Ilham menatapku dengan mata berkaca.

"Nggak Det, aku nggak mau. Aku sayang sama kamu. Aku nggak bisa kehilangan kamu." Ilham menumpahkan air matanya. Semudah itukah ia mengatakannya setelah semua yang ia lakukan padaku.

Plakk... Tanganku menampar pipi kanan Ilham. Ia hanya diam saja. Aku menatap tangan kananku penuh penyesalan. Aku tak tahu kenapa aku bisa melakukan ini. Aku benar-benar sakit.

"Makasih atas semuanya." aku tersenyum getir. Kemudian pergi meninggalkannya.

***

Hari ini adalah hari jadianku dengan Ilham. Hari dimana aku memimpikan bisa makan malam bersamanya dan merayakan dua tahun hubungan kami. Tapi, itu dulu sebelum rasa sakit itu terjadi. Rasa sakit pengianatan Ilham padaku. Itu semua sudah cukup bagiku.

"Detha.. " terdengar suara seseorang yang mendekat padaku. Suara yang sangat ku kenal.

Aku menoleh ku dapati Ilham yang sekarang tepat dihadapanku. Sungguh aku benci saat ini. Kenapa dia harus datang lagi padaku?

"Happy anniversary Det.." ujarnya padaku. Aku kaget mendengar kata-katanya tersebut. Sungguh tak pantas ia mengucapkan semua itu. Kita sudah tak ada hubungan lagi.

"Cukup ham. Kita udah putus." bentakku tak suka.

"Det, aku mohon maafin aku. Aku mau kita ulagin semua ini dari awal. Aku masih sayang kamu Det, beri aku kesempatan!" pintanya padaku.

Aku hanya diam.
"Ku mohon Det.."

Aku menggeleng.
"Nggak ham, kesempatan itu udah cukup. Aku nggak bisa lagi. Maaf!" Jika, kau tahu bagaimana perasaanku saat ini. Aku begitu sakit dan sesungguhnya aku ingin menangis. Tapi, semua sudah cukup. Aku bosan menangis karenanya. Karena orang yang dulu sangat ku cintai. Namun, bukan untuk sekarang. Aku sudah cukup merasakan sakit karena penghianatannya. Aku tak mau lagi memberinya kesempatan untuk ke sekian kalinya.

-END-

Sweet Sixteenth (CERPEN)

Add caption

Udara terasa panas karena siang itu begitu terik. Sinar matahari tak hentinya memancarkan kilaunya. Membuat kulit terasa terbakar akibat sinar ultraviolet. Seorang gadis tengah berjalan menapaki koridor sebuah sekolah. Kakinya terus berayun mengikuti arah tatapan matanya. Sesekali ia mengelap peluh yang sedari tadi menetes tanpa henti.

Pandangan matanya terhenti pada sebuah bola yang tak henti-hentinya meluncur mulus masuk ke dalam ring. Tampak dari situ gadis itu melihat seorang pria yang sedang memainkan bolanya. Gadis itu menarik sudut bibirnya membentuk senyum sinis seperti meremehkan.

" Dasar cowok aneh." gerutu gadis itu masih menatap pria yang tengah memainkan bola basketnya. Dalam panas terik matahari yang tepat berada diposisi tengah bumi pria itu tak menghentikan kegiatanya memainkan bola basket.

Beberapa detik kemudian tanpa disangka ternyata pria itu beralih menatap. Entah karena ucapan gadis itu yang dapat di dengar. Atau hanya kebetulan saja. Tapi, langkah pria itu semakin mendekati gadis itu. Hingga akhirnya mereka sekarang tengah berhadapan.

" Kenapa lo perhatiin gue kaya gitu? Baru sadar kalau gue keren? Dan sekarang lo sadar kalau lo ternyata ngefans sama gue?" pria itu tersenyum sombong. Tampak si gadis menyipitkan mata.

" Ngimpi lo! Ogah banget ngefans sama cowok songong kaya lo. Rafael!" tegas gadis itu menyebut nama si pria. Kemudian melengos dan pergi meninggalkan Rafael yang masih mematung dengan seribu pertanyaan dalam benaknya.

Rafael masih berdiri sembari menatap punggung gadis itu yang semakin mengilang. Tangan kanannya mendrible bola basket dengan pelan di lantai. Sebenarnya hal itu tak boleh ia lakukan. Bisa saja seorang guru tiba-tiba melintas dan menegurnya karena ia salah tempat. Lantai koridor bukan tempat yang tepat untuk bermain basket. Apalagi Rafael adalah ketua osis. Sangat tidak pantas bila ia di tegur karena hal sepele seperti itu. Namun, semua itu sama sekali tak ia pikirkan. Pandangannya tetap tak beralih pada gadis itu.

" Gue kira lo bakal berterima kasih. Ternyata lo nggak berubah." ucap pelan Rafael.

***

Seorang gadis tampak sumringah kemudian bangkit dari tempat duduknya.

" Dari mana aja sih lo?" tanya gadis itu pada seseorang yang sekarang mengambil posisi duduk disebelahnya.

" Jalan-jalan." jawabnya singkat.

" Raf, gue serius."

" Gue juga serius, Fairy." Rafrie beralih menatap Fairy dengan wajah meyakinkan.

" Lo udah ketemu kak Rafael? Terus bilang makasih sama dia."
Rafrie langsung melengos.

" Buat apa?" Rafire berkata cuek dengan bibirnya yang menyunging.

" Astaga! Gue kan udah cerita sama lo kemarin. Lo lupa atau belaga lupa sih?" Fairy membesarkan volume suaranya. Hingga membuat penghuni kelas yang lainnya beralih menatapnya. Fairy langsung terseyum meringis pada teman-temannya. Bermaksud meminta maaf telah menimbulkan suara berisik. Kemudian kembali pada Rafrie berharap mendapatkan jawaban dari gadis itu.

" Gue nggak percaya tuh cowok ikhlas nolong gue. Pasti cuma cari muka aja. Tadi ketemu aja tetep songong kaya biasanya."

" Tapi, dia udah nolongin lo Raf. So.. Lo harus bilang makasih sama dia!" tegas Fairy.

" Enggak!" tolak Rafrie.

" Lo harus mau!"

" Sekali enggak ya enggak."

" Ikh.. Lo ngeyel banget sih. Dia kaya gitu sama lo karena dia suka sama lo Raf! Ups... " Fairy langsung menutup mulutnya. Rafrie menatap Fairy penuh tanda tanya berharap kata-kata Fairy tadi salah bagi pendengarannya itu.

" Lo tadi ngomong apa?"

" Kak Rafael suka sama lo."

" Hah? Rafael? Cowok songong, nyebelin, belagu gitu. Jangan ngarang deh. Dia itu musuh gue Fairy." Lagi-lagi Rafrie tak percaya.

Sedetik kemudian tanpa ada balasan dari Fairy percakapan itu terhenti. Bu Lina, guru Sejarah yang terkenal galak itu tiba-tiba masuk kelas. Dan dapat dipastikan semua murid langsung tenang tak ada yang berani membuka mulut termasuk Fairy dan Rafrie.

***
Cieettt...

Suara mobil yang tiba-tiba mengerem mendadak memekikan telinga. Tanpa sadar Rafrie menutup mata dengan kedua tangan menutupi telinganya. Sesuatu telah membuatnya lolos dari maut. Tubuhnya terhuyung hingga jatuh pada tepi jalan karena hampir saja sebuah mobil menabraknya.

Mobil itu berhenti sejenak kemudian berlalu melaju kembali. Rafrie perlahan membuka matanya. Ternyata ia tak sendiri ada orang lain yang berada didepannya dengan posisi terjatuh seperti dirinya. Mungkin seseorang itu yang telah menolong dirinya.

Tatapan matanya terhenti pada sosok yang ada dihadapannya. Mulutnya sulit terbuka untuk berucap.

" Eh.. Lo tuh lihat nggak sih tadi ada mobil? Apa lo sengaja mau bunuh diri?" suara itu membuyarkan lamunan Rafrie. Semburat wajah kekesalan tiba-tiba saja terpancar dari Rafrie. Kemudian ia bangkit diikuti seseorang yang menolongnya tadi.

" Kalau lo nggak ikhlas ya udah. Kenapa lo nolongin gue tadi? Hah?" Rafrie menumpahkan segala emosinya pada sosok itu. Kemudian membalikkan badannya bermaksud pergi. Namun, sebuah tangan lembut menahannya untuk pergi.

" Raf!" suara lembut itu memanggil namanya.

" Gue.. Gue nggak bermaksud ngomong gitu." lanjutnya. Rafrie langsung beralih menatap sosok yang telah menahannya tadi. Di lihatnya wajah itu dengan berbagai pertanyaan yang terlintas di benaknya. Beberapa detik kemudian ia menunduk. Tak kuasa dirinya untuk menatap lagi sosok didepannya. Wajahnya memanas dan setetes demi setetes air matanya jatuh terkulai.

" Makasih Raf." ucapnya singkat.

" Buat apa?" sosok yang ternyta Rafael bertanya. Sebenarnya ia tahu jawaban Rafrie tapi ia ingin tahu jawaban dari mulut gadis itu sendiri.

" B..buat semua yang udah lo lakuin buat gue. Nolongin gue pas hampir tenggelam di kolam dan sekarang. Lo udah nyelamatin hidup gue dua kali." ujar Rafrie dengan wajah menunduk. Ia tak menyangka kalimat itu akan terucap begitu saja dari bibirnya. Dan yang paling membuatnya sedikit kecewa kali ini ia benar-benar meneteskan air mata. Lebih tepatnya menangis.
Padahal orang yang tengah ada di hadapannya adalah seseorang yang selama ini ia anggap sebagai musuh.

Rafie tak menyangka seorang Rafael yang sejak pertama kali mereka bertemu selalu saja bertengkar. Ternyata mempunyai sisi baik juga. Rafael rela menolongnya saat ia hampir tenggelam di kolam karena ulah kakak kelas yang membenci dirinya. Dan baru saja ini Rafael juga telah meloloskan dirinya dari maut.

***

Semenjak kejadian hari itu Rafrie sedikit melunak pada Rafael. Tak ada lagi tatapan-tapapan sinis, kebencian, maupun pertengkaran antara dirinya dengan Rafael. Mereka sekarang telah berteman. Ada hal yang lain yang membuatnya sulit tidur sekarang. Bayang-bayang sosok Rafael telah menghantuinya. Apalagi semenjak kata-kata Fairy beberapa waktu lalu yang mengatakan Rafael menyukai dirinya. Hatinya tambah kacau.

Jantungnya memompa cepat ketika berhadapan dengan Rafael. Entah apa yang membuatnya seperti itu. Namun, ia terasa nyaman bila berada didekat Rafael.

***

" Raf, gue sayang sama lo." tegas Rafael saat berada di Lapangan basket sore itu. Membuat langkah Rafrie terhenti seketika.
Rafael menghentikan langkahnya saat telah sejajar dengan Rafrie.

" Lo mau kan terima gue?" Rafael meyakinkan.

" Sorry Raf, kita baru aja deket. Gue nggak bisa." jawabnya kemudian belalu pergi.

Rafrie memejamkan matanya sembari terus melangkah meninggalkan Rafael. Hatinya meronta menerima semua perkataannya tadi. Ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Seperti tak rela mengatakan semua itu pada Rafael. Ada hal yang lain yang membuatnya sedikit kecewa dengan ucapanya.

***

25 September, hari dimana Rafrie merasa bahagia. Hari ini adalah perayaan ulangtahunnya yang ke 16. Sebuah pesta di adakan di rumah omanya. Beberapa teman dan sahabat-sahabat dekatnya telah hadir diperayaan hari jadinya tersebut.

Berbagai ucapan selamat membanjiri dirinya semenjak tadi. Namun, itu tak membuat senyumnya begitu sangat terkembang. Ada hal lain yang ditunggunya dari tadi. Ia sama sekali tak melihat sosok Rafael.

‎" Raf, lo kenapa?" Fairy tiba-tiba saja datang. Ia heran melihat Rafrie sepupunya sekaligus sahabatnya itu begitu tak bersemangat menikmati pesta.

" Gue nggak apa-apa kok." Rafrie tersenyum tipis.

" Nunggu kak Rafael ya?" Fairy menebak.

" Hah? Em.. Eng.. Enggak kok." jawabnya terbata-bata.

" Alah.. Nggak usah bohong deh gue tahu kok." Fairy tersenyum menggoda. Rafrie hanya memalingkan wajahnya yang tersipu.

" Hosh..hosh..hosh.. " Reza pacar Fairy tiba-tiba datang dengan tergopoh-gopoh dan nafasnya yang terdengar ngos-ngosan.

" Kamu kenapa sih? Kok lari-larian gitu?" Fairy kelihatan bingung dengan kedatangan pacarnya itu.

" Hosh.. Itu.. Hosh.. Raf Rafael.. Rafael kecelakaan." jawab Reza masih dengan nafas ngos-ngosan.

Rafrie langsung melotot kaget mendengar kalimat Reza. Begitu dengan Fairy yang terlihat ikut tercengang. Tanpa pikir panjang Rafrie langsung menyuruh Reza mengantarkannya ke rumah sakit tempat Rafael dirawat. Ia tak peduli lagi dengan pestanya tersebut. Pikirannya terus terfokus untuk segera sampai di rumah sakit dan mengetahui bagaimana keadaan Rafael.

***

Di sebuah rumah sakit yang cukup besar mobil Reza akhirnya terhenti. Tanpa pikir panjang Rafrie langsung masuk menuju ruang resepsionis untuk menanyakan ruang rawat Rafael. Setelah tahu ia pun langsung berhambur menuju ruang rawat yang di maksud di ikuti Fairy dan Reza dari belakang. Sampai akhirnya ia terhenti didepan sebuah kamar inap.

Perlahan langkahnya mencoba masuk ruangan. Namun, terhenti ketika seorang laki-laki berjas putih keluar dari kamar tersebut. Wajahnya terlihat sendu.

" Dok, gimana keadaan Rafael?" Rafrie langsung to the point. Raut wajahnya sangat khawatir dengan keadaan Rafael.

Dokter tersebut hanya diam tidak menjawab. Beberapa detik setelah itu dokter pun angkat bicara.

" Pasien telah kami pindahkan. Mari ikut saya!" Dokter itu pun membimbing Rafrie agar mengikuti langkahnya.

Dokter membuka ruangan yang sunyi tersebut untuk Rafrie. Diikuti Reza da Fairy dari belakang.

Jantung Rafrie terasa terhenti seketika. Ia tak menyangka tempat itu yang akan ditunjukan oleh dokter kepada dirinya. Diatas ruangan tersebut telah tertulis jelas nama ruangan tersebut 'KAMAR MAYAT'.

Rafrie berjalan pelan selangkah demi selangkah. Kakinya berat terasa untuk menapak memasuki ruangan itu. Dokter tersebut akhirnya berhenti disebelah ranjang dengan seseorang diatasnya lebih tepatnya mayat yang ditutup selembar kain putih panjang menutupi tubuh yang terbujur itu. Tangis Rafrie pun akhirnya tumpah juga.

Tangannya menggigit jari telunjuk dengan air mata yang terus mengalir. Membanjir hingga membasahi kedua belah pipinya. Isak tangisnya semakin menjadi ketika ia telah berada di samping tubuh yang tertutup kain putih itu.

Sang Dokter pun meninggalkan ruangan tersebut membiarkan Rafrie berada disitu. Reza dan Fairy berdiri diambang pintu. Seperti halnya Rafrie, Fairy pun ikut menangis menyaksikan semua itu. Reza berusaha menenangkan Fairy dalam pelukannya.

" Kenapa lo tinggalin gue Raf? Gue sayang sama lo. Lo bangun Raf! Gue mohon."
Rafrie tak sanggup lagi berdiri tubuhnya terkulai lemas tak berdaya. Tubuhnya pun ambruk terduduk dilantai dengan air matanya yang terus membanjir.
" Gue sayang sama lo Rafael." ucap Rafrie penuh penyesalan. Ia baru menyadari betapa sakitnya kehilangan orang yang sangat ia sayangi. Kalau saja waktu bisa diputar ia tak akan menolak cinta Rafael. Namun, sebaliknya ia ingin menerima Rafael. Karena sesungguhnya didalam hatinya ia mencintai Rafael. Dan mungkin penyesalan itulah yang hinggap pada dirinya sekarang. Ia telah kehilangan Rafael untuk selamanya.

‎" Yes! Berhasil." Reza mengucap lirih sambil terkikik menahan tawa. Fairy yang merasakan tubuh Reza yang bergetar langsung mendongak menatap pacarnya.

" Tuh.." Reza menunjuk seseorang yang berada diambang pintu. Fairy langsung membulatkan matanya melihat sosok yang ditunjuk Reza. Sebuah kata hampir terlontar dari bibirnya. Namun, sesegera mungkin  Reza membekap mulut Fairy. Kemudian menuntun Fairy agar segera keluar dari ruangan tersebut.

" Apa lo bisa ulangin kata-kata lo tadi?" suara itu sangat Rafrie kenal. Dalam tangisnya itu kemudian ia mengarahkan pandangannya pada sumber suara itu.

Apa ia tak salah lihat. Sosok Rafael yang tengah berdiri diambang pintu. Rafrie langsung berdiri menatap sosok misterius itu. Apakah itu arwah Rafael? Pandangannya beralih pada mayat yang terbujur kaku disebelahnya. Sosok yang menyerupai Rafael itu langsung mendekat dan kini berada dihadapan Rafrie. Tanpa basa basi sosok Rafael langsung menyibak kain putih yang menutupi mayat tersebut. Rafrie tercengang tak percaya ternyata yang sedari tadi tertutup kain adalah patung. Bukan mayat Rafael. Dan sekarang yang telah berada didepannya memang benar-benar Rafael yang masih hidup.

" Happy birthday Rafrie! Gue sayang sama lo." ucap Rafael kemudian memberikan sebuket bunga mawar merah kepada Rafrie. Senyum dibibir Rafael terpancar jelas. Rafrie masih membisu tak percaya.

" Lo mau kan terima gue? Karena gue tahu lo sayang sama gue." lanjut Rafael.

" Lo curang Raf! Kenapa lo bohongin gue? Kenapa Reza bilang lo kecelakaan." protes Rafrie.

" Gue nggak curang. Karena gue tadi emang kecelakaan. Tapi, gue kan nggak kenapa-kenapa. Lagian kenapa lo percaya gitu aja sama rencananya Reza. Jadi, gue nggak salah donk." Rafael tersenyum jahil.
Sejenak Rafrie terdiam. Ada benarnya juga kata-kata Rafael. Beberapa detik kemudian Rafrie tertawa kecil. Memikirkan kebodohannya tadi.

" So.. Lo mau kan terima gue? Karena lo udah ketahuan diem-diem sayang sama gue."

Rafrie langsung mengambil buket bunga mawar yang ternyata berjumlah 16.

Seperti ulang tahunnya hari ini yang ke 16.

" Siapa bilang gue mau." ucap Rafrie sok jual mahal. Rafael langsung menaikan sebelah alisnya pada Rafrie. Kemudian Rafrie beralih menatap Rafael sembari tersenyum.

" Gue mau Raf, karena gue juga sayang sama lo." Rafrie langsung menunduk tersipu. Rafael tersenyum mendengar kata-kata Rafael. Kemudian Rafael menenggelamkan Rafrie kedalam pelukannya dan mengecup kening Rafrie dengan lembut.

" Thanks Raf, lo udah buat hari ulang tahun gue begitu indah." lirih Rafrie dalam hati.



- END-