 |
| Muhammad Ilham Fauzie |
"Sayang aku minta maaf ya?" Ilham menggenggam erat tanganku.
Aku mengernyitkan kening. Apa maksudnya? Kenapa dia minta maaf? Aku merasa dia tak pernah punya salah padaku.
"Minta maaf? Buat apa sayang? Kamu kan nggak salah." ujarku.
"Iya sih. Tapi, aku cuma pengen minta maaf aja kok." Ilham tersenyum manis.
Aku masih bingung dengan kata-kata Ilham tadi. Tapi, ya sudahlah tak ada yang perlu dipikirkan.
"Nggak nyangka ya kita udah hampir dua tahun." aku tersenyum mengingat hubunganku dengan Ilham sebulan lagi sudah berusia dua tahun.
"Iya sayang, aku juga seneng banget." tambah Ilham. Beberapa menit kemudian makanan pesanan kami datang. Seperti inilah kebersamaan yang selalu kami jalani saat kami sama-sama mempunyai waktu senggang.
Di restaurant ini Ilham selalu mengajaku makan. Menyantap makanan kesukaan kami berdua. Bercengkrama dan bercanda tawa bersama. Aku memang beruntung punya pacar seperti Ilham.
***
"Detha.... " Aku mendengar seseorang dari kejauhan memanggil namaku.
Aku pun segera menoleh dan mendapati Angel sahabatku berlari kearahku. Sejurus kemudian tangannya telah merangkulku dan berjalan bersejajar denganku.
"Cie.. Kemarin dari mana aja nih? Ngiri gue sama lo." Angel menggodaku. Aku tersenyum misterius padanya. Sengaja aku tak menjawab pertanyaannya karena aku ingin dia makin penasaran.
"Ikh.. Apaan malah senyum-senyum nggak jelas gitu?" Angel mencubit pelan pipiku.
"Ya gitu deh. Makanya cari pacar donk biar nggak jomblo terus." Aku mencibir padanya kemudian melanjutkan langkahku. Aku tersenyum puas melihat bibir Angel manyun beberapa centi. Dia memang sahabat terbaiku. Tapi, yang membuat ku heran kenapa sampai sekarang ini dia masih betah menjomblo. Padahal, kami ini sudah kelas XII SMA. Aneh bukan?
"Mentang-mentang yang udah punya pacar. Seenaknya aja ngatain sahabatnya." Angel kembali menyejajari langkahku. Tentu dengan wajahnya yang terlihat kesal. Aku terkikik dibuatnya.
"Angel.. Sayang, jangan ngambek donk. Gue kan cuma bercanda."
"Oke. Gue nggak akan ngambek. Kalau lo mau temenin gue ke kantin."
tanpa basa-basi Angel menarik tanganku untuk mengikuti langkahnya.
"Eh.. Apaan nih, maksa banget. Udah mau bel hlo." ujarku padanya.
"Udah ah. Biarin. Gue laper nih tadi belum sempet sarapan." Angel terus melangkah. Dan terpaksalah aku mengikutinya berjalan. Bukannya kami segera masuk ke kelas. Tetapi, justru kami berbelok arah menuju kantin sekolah. Huft.. Itulah sifat Angel selalu saja membuatku sedikit repot setiap paginya. Karena, ia selalu memintaku untuk mengantarkannya ke kantin saat pagi hari. Hal itulah yang sering membuat kami telat masuk kelas.
***
Sudah satu jam lamanya Aku menunggu Ilham di depan gerbang sekolah. Dan sampai saat ini dia belum juga datang untuk menjemputku. Entah sudah berapa kali aku menengok jam tangan yang terlilit dipergelangan tangan kiriku. Sungguh rasanya bosan sekali aku menunggu dirinya. Kami memang berbeda sekolah. Namun, jarak sekolahku dengan Ilham tidak terlalu jauh. Mungkin dengan waktu sepuluh menit saja sudah bisa sampai di sekolahku. Tapi, ini? Ah.. Mungkin dia sibuk.
Memang sih bukan hari ini juga aku harus setengah mati menunggunya. Beberapa hari terakhir dia juga selalu telat menjemputku.
Beberapa saat kemudian aku melihat sebuah motor ninja merah mendekat padaku. Kemudian berhenti tepat didepanku. Si empunya motor langsung membuka helmnya. Dan dapat terlihat jelas ia adalah Ilham.
"Lama banget sih?" aku menunjukkan wajah kesalku.
"Maaf ya sayang, tadi di sekolah lagi ada rapat OSIS gitu." jelas Ilham.
Aku hanya diam.
"Jangan ngambek donk." godanya padaku dengan senyum nakalnya. Aku tersenyum melihat tingkahnya. Kemudian ia ikut tersenyum melihatku. Seperti itulah sosok Ilham ada-ada saja tingkahnya yang membuatku tak bisa marah dengan cowok ini. Dia memang mengerti banyak tentang diriku.
"Ya udah deh. Yuk naik!"
Aku pun segera menuruti perintahnya. Selah beberapa saat Ilham telah melajukan motor kesayangannya ini.
***
Malam minggu malam yang sangat menyenangkan saat kita bisa bersama orang yang begitu berarti. Jalan-jalan, nonton film atau melakukan hal lainya bersama orang yang spesial. Tapi, tidak untukku di malam minggu kali ini. Aku tak pergi keluar bersama Ilham. Melainkan aku hanya duduk termenung di atas balkon rumahku. Tanganku tak henti memutar-mutar handphoneku yang sedari tadi ku genggam. Aku menunggu sms dari Ilham. Namun, sedari tadi tak ku dapati sms dari Ilham.
Tiba-tiba saja tanganku dengan lincah memencet tombol keypad. Ku cari kontak nomor Dicky, sahabat Ilham. Aku ingin bertanya pada Dicky apakah dia sedang bersama Ilham atau tidak.
To: Dicky
Malem Dick???
From : Dicky
Malem juga,, ada apa Det? Tumben lo sms gue
To : Dicky
Eh.. Ini, gue mau tanya lo lagi sama Ilham nggak?.
From : Dicky
Nggak Det, dia nggak sama gue. Oh.. Mungkin dia lagi pergi cari bahan-bahan buat kegiatan Osis sama Fely.
to: Dicky
Fely? Temen sekelas kalian?
From: Dicky
Iya. Jadi, lo nggak tahu kalau mereka sering jalan bareng?
To: Dicky
Gue nggak tahu Dick. Dia nggak pernah bilang kalau pergi sama Fely. Apa dia punya hubungan sama Fely??
Setelah sms itu terkirim aku begitu berdebar menunggu sms balasan dari Dicky. Entah mengapa perasaanku menjadi kacau mendengar Ilham pergi bersama Fely tanpa sepengetahuanku. Lama sekali Dicky membalas smsku. Membuatku semakin penasaran dengan semua itu. Baru pada sepuluh menit kemudian ku dapatkan sms dari Dicky.
From: Dicky
Em.. Sorry ya Det, gue kira lo udah tahu :'( oh ya udah dulu ya gue sibuk nih. Bye..
To: Dicky
Dick, lo belum jawab pertanyaan gue. Sebenernya ada hubungan apa mereka berdua?? :'(
Send. Aku mengirimnya.
Setelah itu Dicky bagai hilang ditelan bumi. Ia tak juga membalas smsku. Handphonenya pun mendadak tidak aktif saat hendak ku telepon.
Deg. Hatiku mendadak sakit bagaikan tertusuk pisau tajam. Apa arti semua ini? Kenapa Dicky tak menjawab pertanyaanku. Jangan-jangan ia memang sengaja ingin menyembunyikan sesuatu dariku.
Perasaanku semakin kacau mengingat nama Fely begitu melekat di memory otakku. Dia adalah gadis yang pernah singgah di hati Ilham. Saat kami belum resmi berpacaran. Namun, saat itu aku yakin Ilham belum sepenuhnya melupakan Fely. Aku benar-benar yakin akan hal itu. Dan sekarang ini aku benar-benar sakit dengan perlakuan Ilham. Kenapa selama ini ia tak pernah bicara padaku saat ia akan pergi bersama Fely. Kenapa? Apa ada hal lain yang ia sembunyikan dariku? Mungkinkah masih ada sedikit perasaannya untuk Fely.
***
Sore ini aku janjian ketemu dengan Ilham disebuah cafe. Aku sengaja berangkat sendiri tanpa Ilham yang menjemputku. Sudah sepuluh menit aku duduk di meja nomor 20 tempatku menunggu Ilham. Sebagai penghilang rasa bosan aku memesan juice jeruk.
Selang beberapa saat ku lihat Ilham datang dengan senyumnya yang mengembang menghampiri meja tempatku duduk.
"Hay sayang? Udah lama ya nunggunya?" Ilham langsung mengambil posisi duduk di kursi. Aku hanya tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaannya.
Ilham pun memanggil seorang waiters untuk memesan makanan. Waiters itu pun menghampiri kami.
"Kamu tadi udah pesen makan?" tanya Ilham sembari membuka-buka daftar menu yang tersedia. Aku menggeleng pelan.
Ilham terlihat bingung dengan sikapku. Segera saja ia meletakkan daftar menu tersebut di meja.
"Em.. Mbak, sepertinya saya belum mau pesen. Nanti aja ya." ujar Ilham pada waiters itu.
"Oh.. Baik mas." waiters itu pun melenggang pergi.
Ilham menatapku dengan wajah penuh tanda tanya. Aku melengos tanpa mempedulikannya. Tangannya bergerak meraih tanganku. Namun, begitu saja ku tepis tangannya. Ilham semakin tak mengerti dengan sikapku.
"Kamu kenapa sayang? Kamu sakit."
Aku hanya diam.
"Det, aku punya salah apa sama kamu? Kenapa kamu diamin aku kaya gini? Kamu marah?" tanya Ilham lagi.
Aku pun segera menatapnya dengan wajah begitu dingin.
"Tadi, malam kamu kemana aja?" aku bertanya dingin.
"Ta.. Tadi malem? A.. Aku sama Dicky lagi ada urusan gitu sama anggota OSIS." Ilham terlihat gugup.
Namun, dapat kulihat senyum yang masih melekat dibibirnya.
"Dicky? Kamu nggak bohongin aku kan?" aku menatap sinis pada Ilham.
Ilham terlihat diam tak menjawab pertanyaanku. Sorot matanya sedikit takut mulai menatapku.
"Kamu bohong ham, kamu tadi malam pergi sama Fely, kan?" tanyaku lagi. Ilham tersentak kaget.
Aku tersenyum sinis lagi melihat ekspresi kekagetan Ilham.
"K.. Kamu tahu dari mana?" tanyanya gugup.
"Itu nggak penting. Dan yang aku tahu sekarang, kamu udah bohongin aku selama ini. Kenapa kamu sembunyiin ini dari aku ham? Kenapa kamu diam-diam jalan sama Fely?" mataku berkaca menunggu jawaban Ilham.
Tanpa menjawab ia langsung meraih kedua tanganku kemudian menggenggamnya erat. Bibirnya terlihat bergetar hendak mengatakan sesuatu.
"Det, maafin aku. Aku emang jalan sama Fely. Aku khilaf Det. Aku mohon maafin aku." ujar Ilham. Aku sungguh tak percaya dengan ucapan Ilham itu. Kenapa semudah itu dia menjawab pertanyaanku. Dan semudah itu ia meminta maaf karena ia memang sering jalan bersama Fely tanpa sepengetahuanku. Itu artinya semua itu memang benar.
Air mataku yang sedari tadi ku tahan akhirnya tumpah.
"Kenapa kamu nggak pernah bilang sama aku ham. Kenapa? Hiks.. Hiks.."
"Maafin aku Det, aku khilaf. Sungguh aku nyesel ngelakuin ini." ia terus menggenggam erat tanganku.
Ku hela nafas sebentar. Aku tak dapat berkata lagi padanya. Ku hempaskan tangan Ilham yang masih menggenggam tanganku.
"Detha.." panggilnya saat aku berdiri. Aku tak kuat lagi berada disisinya. Aku ingin pergi darinya. Meninggalkan dirinya setidaknya setelah aku bisa lebih tenang.
"Aku mau pulang." liriku dengan nafas yang sesenggukan karena tangis.
"Aku anter ya?" Ilham menahan tanganku.
"Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri." ku lepaskan tangannya yang menahanku itu. Kemudian segera pergi meninggalkan Ilham.
***
Beberapa hari setelah itu aku sudah sedikit melupakan. Walaupun rasa sakit itu tak ayal masih tersisa. Namun, aku tak tega dengan Ilham. Ia terus saja meminta maaf padaku.
Dan ia pun telah berjanji agar tak lagi melakukan hal itu padaku. Bahkan, ia akan melupakan segala yang pernah terjadi dengan Fely. Menjauhi Fely dengan semua kenangan masa lalunya demi aku. Aku pun memberikan kesempatan padanya. Karena, dari dasar hatiku aku sangat menyayaginya. Walaupun kejadian itu membuatku terpukul. Sebisa mungkin aku akan melupakan semua itu.
Siang itu aku iseng-iseng membuka akun facebook. Untuk sekedar menghilangkan rasa bosanku karena tak ada teman. Semenjak kejadian itu aku memang agak sedikit diam dan menjaga jarak dengan Ilham. Agar kami bisa sama-sama menenangkan diri.
Aku pun mengetik sebuah status di akun facebookku.
Detha Devianita:
Masihkah aku bisa mencintaimu seperti dulu??
Aku terus membiarkan tanganku menari-nari diatas keyboad laptopku. Dan saat itu ternyata ada yang mengirim pesan padaku tak lain adalah kak Reza. Kak Reza memang orang yang tak asing lagi denganku. Dia adalah Kakak Ilham.
Reza Anugrah
..lagi ada masalah apa sih Det?
Detha Devianita
..eh kakak. Lama nggak ketemu ya? Hehe..
Biasalah aku lagi ada sedikit masalah.
Reza Anugrah
..gara2 ilham y?
Detha Devianita
Iya kak. Beberapa hari yang lalu aku lagi berantem sama dia. Dia selingkuh dibelakang aku.
Reza Anugrah
Huft.. Maafin kakak ya Det, Ilham udah nyakitin kamu. Sebenernya kakak udah tahu kalau Ilham jalan sama Maura :'(
Deg. Lagi-lagi aku harus merasakan sakit untuk yang kedua kalinya. Maura? Siapa lagi dia?
Kenapa ada nama asing lagi pada hubungan kami. Jadi, bukan hanya Fely yang menjadi pelarian Ilham melainkan ada yang lain lagi yaitu Maura.
Detha Devianita
:'( Kakak tahu itu dari mana?
Sungguh ini pertanyaan menyakitkan. Aku pura-pura tegar dan bertanya seperti itu. Pada kenyataannya aku baru tahu sekarang nama itu. Dan itu semua terlontar dari kak Reza sendiri. Jadi, dapat di pastikan itu bukan bohong belaka.
Reza Anugrah
Dulu Maura sering di ajak pulang Ilham Det, tapi nggak tahu sekarang dia nggak kelihatan lagi.
Detha Devianita
Sejak kapan kak?
Reza Anugrah
udah lama sih. Sekali lagi kakak minta maaf ya Det, kakak baru berani ngomong sekarang.
***
Perih itu perlahan sirna ketika waktu berjalan kedepan. Bayangan kelam kesenduan pun telah bertebar tiada sisa dan hampir hilang. Tapi, mengapa disaat semua itu hampir hilang. Semua itu datang kembali menyergapku dalam ruang sepi yang begitu memedihkan.
Sudah beberapa jam aku menjauhkan diriku dari segala keramaian. Aku meringkuk memeluk lututku dalam tangisan yang hampir tak terdengar disebuah ruang. Ruang dimana aku menghabiskan waktuku setiap harinya, di kamarku.
Tak ada gunanya semua ini. Aku tak selamanya akan seperti ini. Aku lelah dengan semuanya. Lelah menangisi perjalanan cinta yang penuh dengan penghianatan. Aku harus mengakhiri semua ini.
Entah aku mendapat dorongan dari mana. Sekarang aku telah berdiri di halaman sekolah Ilham. Aku mengirim pesan pada Ilham agar menemuiku siang ini. Tapi, ternyata aku tak melihatnya. Aku pun berpikir untuk mencarinya ditempat biasanya bermain basket.
Aku berdiri mematung. Dapat ku lihat sekarang Ilham yang perlahan mendekat padaku. Tangannya menenteng sebuah bola basket. Mungkin ia heran dengan kedatanganku siang ini. Itu dapat ku lihat dari sorot matanya.
Sebelum itu aku sempat melihatnya bercengrama dengan beberapa gadis. Aku panas dibuatnya namun ku tahan semua itu.
Kini kami saling berhadapan dalam diam. Aku tak mau memulainya. Dan entah mengapa Ilham juga tak mau memulai pembicaraan.
"Siapa Maura?" tanyaku datar. Namun, sukses membuat Ilham tersentak kaget.
"Siapa dia? Selingkuhan kamu?" suaraku meninggi.
"Det.... " wajah sayu Ilham tersirat penuh penyesalan atau mungkin hanya aktingnya saja. Aku tak tahu.
"Aku kecewa banget kali ini. Ternyata, kamu memang.... " kalimatku tertahan karena butiran-butiran kristal dari mataku telah tumpah seketika.
"Maafkan aku Det, aku salah. Aku khilaf ngelakuin itu semua." bola yang ia pengan telah jatuh. Tangannya kini memegang kedua lenganku. Ia menatapku penuh penyesalan. Tak ku balas tatapannya. Aku menunduk dalam tangisan.
"Kenapa kamu tega ham? Apa salahku sama kamu?" ujarku sesenggukan.
"Kamu nggak salah Det, aku yang salah udah jahat sama kamu. Aku minta maaf."
Ku tepis tangannya kemudian mataku menatap Ilham penuh kebencian. Aku benar-benar sudah muak.
"Semua ini udah cukup ham. Aku mau kita putus." ucapku padanya. Ilham menatapku dengan mata berkaca.
"Nggak Det, aku nggak mau. Aku sayang sama kamu. Aku nggak bisa kehilangan kamu." Ilham menumpahkan air matanya. Semudah itukah ia mengatakannya setelah semua yang ia lakukan padaku.
Plakk... Tanganku menampar pipi kanan Ilham. Ia hanya diam saja. Aku menatap tangan kananku penuh penyesalan. Aku tak tahu kenapa aku bisa melakukan ini. Aku benar-benar sakit.
"Makasih atas semuanya." aku tersenyum getir. Kemudian pergi meninggalkannya.
***
Hari ini adalah hari jadianku dengan Ilham. Hari dimana aku memimpikan bisa makan malam bersamanya dan merayakan dua tahun hubungan kami. Tapi, itu dulu sebelum rasa sakit itu terjadi. Rasa sakit pengianatan Ilham padaku. Itu semua sudah cukup bagiku.
"Detha.. " terdengar suara seseorang yang mendekat padaku. Suara yang sangat ku kenal.
Aku menoleh ku dapati Ilham yang sekarang tepat dihadapanku. Sungguh aku benci saat ini. Kenapa dia harus datang lagi padaku?
"Happy anniversary Det.." ujarnya padaku. Aku kaget mendengar kata-katanya tersebut. Sungguh tak pantas ia mengucapkan semua itu. Kita sudah tak ada hubungan lagi.
"Cukup ham. Kita udah putus." bentakku tak suka.
"Det, aku mohon maafin aku. Aku mau kita ulagin semua ini dari awal. Aku masih sayang kamu Det, beri aku kesempatan!" pintanya padaku.
Aku hanya diam.
"Ku mohon Det.."
Aku menggeleng.
"Nggak ham, kesempatan itu udah cukup. Aku nggak bisa lagi. Maaf!" Jika, kau tahu bagaimana perasaanku saat ini. Aku begitu sakit dan sesungguhnya aku ingin menangis. Tapi, semua sudah cukup. Aku bosan menangis karenanya. Karena orang yang dulu sangat ku cintai. Namun, bukan untuk sekarang. Aku sudah cukup merasakan sakit karena penghianatannya. Aku tak mau lagi memberinya kesempatan untuk ke sekian kalinya.
-END-