Halaman

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Desember 2011

KERINDUANKU PADA IBU (CERPEN)




Ini tak seperti malam sebelumnya. Pada tengah malam ini aku masih terjaga. Entah apa yang membuatku seperti ini. Hatiku seperti terganjal sesuatu.

Aku menengok pada dinding kamar kostku. Sudah hampir pukul 23.00. Harusnya aku sudah terlelap sedari tadi. Apalagi aku selalu mudah lelah karena terlalu sibuk dengan kegiatan kampusku. Semua sangat menyita waktu dan juga tenagaku.

--oOo--

Aku bosan sekali, karena sedari tadi hanya berguling-guling di atas kasur. Sedangkan mataku tak jua merasakan kantuk. Aku pun mencoba bangkit dan ingin melakukan sesuatu. Walaupun sebenarnya aku tak tahu apa yang harus ku perbuat. Mengerjakan tugas? Ah.. Aku sangat malas.

Pada akhirnya ku putuskan menghidupkan radio kecil yang ada di kamar kostku. Aku memencet tombol mencari saluran yang sekiranya menarik. Dan aku menemukannya, suara penyiar radio itu sungguh indah di dengar. Aku jadi tersenyum sendiri. Pasti wajahnya ganteng, pikirku. Ah! Apa-apaan aku ini.

Ku cermati kata demi kata yang terucap dari suara indah sang penyiar. Hari ini adalah tanggal 21 Desember 2011. Awalnya aku tak mengerti apa yang sedang ia bahas. Dan lama-lama aku tahu juga. Ternyata penyiar itu sedang membahas tentang Hari Ibu yang kebetulan jatuh pada esok hari tanggal 22 Desember 2011.

Sang penyiar yang memiliki suara indah itu menelpon Ibunya yang berada di ujung sana secara on air di radio. Aku semakin tertarik untuk menyimak percakapan mereka. Sang penyiar pun berbicara dengan Ibunya. Menyapa, meminta maaf juga membicarakan hal yang lainnya. Tiba-tiba hatiku bergetar. Aku merasakan sesuatu yang menyeruak begitu saja ke dalam hatiku. Aku ingat ibu, ya aku tiba-tiba saja merindukannya.

Sungguh saat itu juga air mataku meleleh. Setelah mendengar sang penyiar dan sang ibu sedang berbincang. Aku terkesima dan sungguh tak percaya. Sang penyiar dengan beraninya meminta maaf atas segala kesalahan yang pernah ia lakukan pada sang ibu. Tjuga tentang segala kisah pahit selama hidup sang penyiar yang telah tega menyakiti ibunya sendiri.

Dan semua itu secara on air di radio. Sudah dapat dipastikan semua itu akan didengar oleh para pendengar setia di seluruh Jogja. Aku semakin terisak, merasakan haru. Ku dengar juga sang penyiar menangis dalam setiap kalimatnya. Dan itu menandakan betapa tulus semua perkataannya untuk sang ibu. Aku kagum dengannya. Andai aku bisa seperti itu.

Pikiranku langsung terbang jauh di sana. Di mana aku merindukan sosok seorang ibu. Ibu yang telah melahirkan dan membesarkanku hingga sekarang.

Sudah hampir setahun ini aku jauh dari keluargaku. Semenjak kuliah aku memilih hidup sendiri di kota. Tempat di mana aku sekarang menuntut Ilmu. Aku hidup sendiri di kostan. Jauh dari kehangatan keluargaku yang jauh di sana. Ibu, Ayah dan juga adikku.

Aku tersadar dari kebodohan diriku. Seminggu ini aku sangat sibuk, hingga aku melupakan kewajibanku. Aku jadi jarang menyapa keluargaku yang berada di desa. Aku jarang menelpon mereka, aku selalu sibuk dengan kegiatanku di sini. Ya Allah maafkan hambamu.

Bagaimana keadaan mereka? Aku pun tak tahu kabarnya. Tiga hari yang lalu aku bertindak bodoh. Aku sudah tega tak menjawab panggilan telpon dari keluargaku. Pasti itu dari ibu, dia merindukan aku, putrinya yang telah lama pergi menuntut ilmu. Aku juga menyayangkan bagaimana diriku bisa sekeji ini. Kenapa aku jadi seperti ini? Sedangkan pengorbanan mereka untuk menyekolahkanku hingga aku bisa kuliah di kota besar ini.

Keluargaku bukan orang yang berada. Ayahku hanyalah seorang petani dan ibuku adalah seorang penjual sayur di pasar. Bagaimana pengorbanan mereka untuk membahagiakanku juga adikku sangatlah tiada terkira banyaknya. Bagaimana keseharian ayahku membanting tulang, melawan teriknya matahari juga dinginya angin saat hujan tiba-tiba mengguyur tubuh ayahku yang sedang bekerja di ladang. Juga bagaimana rasa lelahnya ibu yang rela mengayuh sepeda pada pagi buta untuk pergi ke pasar menjajakan sayuran. Dan semua itu tak mudah, mengingat jauhnya jarak antara rumah kami dengan pasar. Berpuluh kilometer jauhnya ditambah dengan beban ibu membawa sayuran yang jumlahnya tak sedikit.

Di sini aku hanya bisa menangis merindukan mereka. Merasakan betapa dinginnya malam tanpa hangatnya kasih sayang keluarga. Terutama pelukan hangat kasih sayang ibuku yang teramat aku cintai.

Ingin rasanya aku memeluk beliau yang berada jauh di desa. Mengucapkan segala kata maaf atas semua rasa bersalahku selama ini. Ingin rasanya aku membalas segalanya yang telah mereka berikan terutama, Ibuku. Namun, semua itu mungkin terjadi semua sangat sulit ku kira. Pengorbanan dan kasih sayangnya tak kan mampu tertandingi oleh apapun di dunia ini.

Aku semakin menyadari betapa mereka, terutama ibuku adalah orang yang paling berharga di dunia ini. Semua tak akan mampu membaklas jasa keduanya.

Ibu, aku merindukanmu.
Aku ingin memelukmu. Aku ingin menumpahkan segala keluh kesah dan segala air mata kesedihan, yang menggenang di pelupuk mataku dalam pelukanmu. Karena aku tahu hanya kaulah yang paling mengerti akan diriku. Karena engkaulah segala kasih sayang yang mampu membuat kehangatan dalam hidupku.

Ibu, aku menyayangimu.
Rasa terima kasihku, tak akan pernah bisa membalas semua pengorbananmu. Aku ingin membalas semua ketulusanmu. Namun, aku tak tahu bagaimana caranya. Karena selama hidupku apa yang aku lakukan tak mampu membuatmu tersenyum. Aku hanya bisa membuatmu menangis dengan semua yang kulakukan. Dan semua itu terkadang tanpa ku sadari telah membuatmu menangis.

Ibu, aku sangat mencintaimu.
Izinkanlah aku memelukmu, mencium kakimu. Di mana surgaku ada pada kakimu.
Ibu, sudikah kau memaafkanku?
Memaafkan segala dosa yang telah ku perbuat selama ini. Yang tak pernah luput dari kesalahan.
Ibu, terima kasih atas segala yang telah kau berikan untukku, putrimu yang durhaka ini.
Ibu, engkaulah separuh nafasku dan juga hidupku ada pada dirimu.
Ibu, aku mencintaimu.

--oOo--

Pagi ini aku memutuskan untuk meninggalkan segala kesibukkanku di kota. Aku memilih bolos kuliah pagi ini. Aku ingin pulang ke rumahku yang berada jauh di ujung selatan sana. Aku sudah tak tahan lagi menahan rindu. Aku ingin memeluk ibu, aku mencium kaki ibu. Aku ingin meminta maaf padanya. Tak lupa aku akan mengucapkan segala rasa sayangku padanya. Aku ingin membalas semua yang ia berikan padaku. Aku ingin selalu membuatnya tersenyum. Aku ingin membuatnya menangis terharu menyaksikanku menjadi orang yang berhasil suatu saat nanti.

Aku memandang dari balik jendela bis yang ku naiki untuk pulang ke rumah. Terlihat sawah-sawah hijau yang membentang khas pedesaan. Bayangan kehangatan keluarga tergambar jelas di benakku. Aku sungguh sudah sangat rindu. Aku ingin segera sampai rumah dan memeluk Ibu juga Ayahku.
Ibu, Ayah tunggulah aku putrimu pulang ke istana kita.

END--

Minggu, 18 Desember 2011

BOUGENVIL -- CERPEN

BOUGENVIL
Oleh: Chastfa Delion




BOUGENVILLE UNGU



Langit tampak cerah siang ini. Angin bertiup sepoi-sepoi hingga membuat rambut panjang Fanna berkibar indah. Siang ini memang membuat hati jadi damai. Udara sama sekali tak sepanas siang pada biasanya.

Fanna duduk disebuah kursi kayu di bawah rerimbunan pohon bunga Bougenvil ungu yang besar dan lebat. Sebuah buku gambar berada ditangannya. Wajahnya berseri-seri melihat apa yang ada di dalam buku gambar yang ia pegang. Dengan lincah tangan kanannya menorehkan garis arsiran sebuah seketsa wajah. Ia kembali tersenyum bangga dengan apa yang baru saja ia gambar.



"Sempurna!" ujarnya setelah memperhatikan gambar wajah seorang cowok yang ia lukis dengan tangannya sendiri.


Kembali teringat ia dengan kejadian sebulan yang lalu saat ia tengah duduk di tempat yang sama seperti sekarang ini.


Agustus 2010


"Sendirian aja?" seorang cowok duduk di sebelah Fanna. Fanna menoleh dan hampir tak percaya di tempat ini ia didatangi seorang pangeran tampan.

Tak ada jawaban, Fanna masih diam terpaku tak dapat berkata.

"Hallo?" cowok ganteng itu melambaikan tangannya tepat di depan wajah Fanna. Fanna pun tersadar.

"Eh, ... " Fanna salah tingkah. Cowok itu tersenyum melihat tingkah polah Fanna.

"Sedang apa kamu?" tanya cowok itu setelah berhenti tertawa.

"Aku?" Fanna masih saja salting. Cowok itu mengangguk.

"Menggambar." jawab Fanna singkat. Cowok itu melirik buku gambar Fanna.

"Boleh lihat?" tanya cowok itu ragu. Fanna mengangguk dan menyerahkan buku gambarnya pada cowok tersebut.

Cowok itu membolak-balik buku gambar Fanna satu persatu. Tiba-tiba cowok itu menoleh menatap Fanna dengan kening berkerut.

"Kenapa? Gambarku jelek ya?" wajah Fanna terlihat bingung.

"Bukan, bukan itu… malah bagus. Bagus banget. Tapi, kok semua gambar kamu cuma bunga?" tanya cowok itu.

"Aku suka bunga. Dan di bawah bunga bougenvil ini aku selalu menggambar . dia temanku." jelas Fanna dengan senyum manisnya.

"Tian! Buruan pulang! Udah sore nih." seorang cowok berteriak memanggil cowok yang duduk berada di samping Fanna. Cowok itu langsung menoleh pada teman yang memanggilnya.

"Sorry ya, gue harus pergi. Sampai jumpa!" pamit cowok yang tak lain bernama Tian itu pada Fanna. Setelah itu Tian berlari menjauh dari tempat Fanna duduk.

Fanna tersenyum sendiri mengingat sosok Tian. Memang mereka tak sempat berkenalan tapi Fanna bersyukur bisa tahu siapa nama cowok tersebut. Tian adalah kakak kelas Fanna yang sekarang duduk di kelas XII sedangkan Fanna duduk di kelas XI. Setiap sore Tian selalu berlatih basket di lapangan tak jauh dari temat Fanna duduk. Dan setiap hari pulalah Fanna diam-diam memperhatikan Tian, tentunya tanpa sepengetahuan Tian.


Sejak pertemuan waktu itu ada yang membuat Fanna jadi berubah. Kebiasaannya menggambar bunga sekarang berubah. Dalam benaknya ia selalu memikirkan wajah Tian. Dan selalu saja tanpa ia sadari wajah Tian menjadi obyek gambarnya. Fanna selalu tersenyum sendiri. Apa ia telah jatuh hati pada Tian?


"Fanna!" seseorang mengagetkan Fanna. Hingga membuat gadis itu terlonjak dan buru-buru menutup buku gambarnya.


"Ya ampun Malla, kebiasaan deh kagetin aku." protes Fanna. Malla sahabat Fanna langsung terkikik penuh kemenangan.


"Hehe.. Abisnya sih kamu selalu menyendiri gitu. Aku kan sahabat kamu masa aku dicuekin terus." Malla memanyunkan bibir mungilnya.


"Maaf, aku bosen aja di kelas. Jadi ya tempat yang paling enak di sini." ujar Fanna.


"Lagi gambar apa sih?" Malla ingin tahu.


"Ah, bukan apa-apa. Ke kelas aja yuk!" Fanna mengalihkan perhatian. Mereka pun berangkulan kemudian pergi menuju kelas.


--oOo--
Maret 2011


"Fanna! Aku datang!" seru Malla memasuki kamar Fanna saat gadis pemilik kamar bercat ungu itu berada di kamar mandi. Tak ada jawaban dari Fanna.


Malla langsung duduk di tepi tempat tidur Fanna. Tatapan matanya menyapu di setiap sudut kamar Fanna yang selalu rapi. Beberapa saat kemudian berhenti pada lembaran-lembaran kertas di atas meja belajar Fanna. Karena penasaran Malla pun beranjak menuju meja belajar Fanna dengan rasa penasaran.


Kedua bola matanya mengamati lebaran kertas milik Fanna yang agak sedikit berantakan. Selembar kertas bergambar itu telah berada di tangan Malla. Ia memperhatikan sungguh-sungguh pada sosok yang ada dalam kertas itu.


"Eh, kamu udah datang." Fanna menghampiri Malla. Malla langsung berbalik menghadap Fanna.


"Na, ini kak Tian kan?" Malla menyodorkan kertas yang di ambilnya tadi pada Fanna. Fanna kaget dan tak menjawab. Matanya menatap kosong arah luar dari balik jendela kamarnya.


Kedua gadis itu duduk berhadapan di atas kasur tempat tidur milik Fanna.


"Kenapa sih kamu nggak pernah jujur sama aku?" tanya Malla penuh harap.


"Maaf." itulah satu kata yang dapat Fanna ucapkan. Wajahnya sulit untuk menatap sahabat yang paling ia sayang itu.


"Seandainya kamu bilang dari dulu kalau kamu suka sama kak Tian. Mungkin aku bakal relain dia sama kamu." kata itu begitu saja terucap dari mulut Malla.


Fanna langsung menengadah menatap Malla yang sekarang ikut menunduk.


"Enggak La, aku bahagia lihat kamu sama kak Tian." setetes air mata mengalir dipipi Fanna.


"Fanna, maafin aku." Malla memeluk Fanna. Mereka pun menangis bersama.


Sebulan setelah pertemuan Fanna dengan Tian ternyata ada hal yang belum ia ketahui. Diam-diam Malla sahabatnya itu jadian dengan Tian. Fanna sangat kaget dan tak percaya dengan semua yang terjadi. Cowok yang diam-diam ia sukai ternyata menjadi milik sahabatnya.


Dan selama delapan bulan ini yang dapat Fanna lakukan adalah melihat sosok Tian yang sering bermain basket. Dengan setia Fanna duduk dan memperhatikan Tian dibawah rerimbunan pohon bunga Bougenvil ungu yang selalu menjadi teman setianya.


--oOo—

Aku akan mencoba melupakanmu walau sungguh sulit ku kira. Kau adalah seseorang yang mampu membuatku bertahan dalam satu cinta. Walau perasaan ini terpendam tapi ini kebahagiaan untukku sendiri. Biarkan cinta ini tersimpan dalam hatiku yang terdalam. Dan biarkanlah aku menjadi setitik kecil yang merindukanmu dibalik rimbunnya bunga bougenvil ini.

Shafanna Khairunisa

 

Fanna berjalan menjauh dari kursi kayu tempat ia biasa menyendiri dibawah pohon bunga Bougenvil. Ia meninggalkan sepucuk surat juga selembar kertas beserta gambar wajah Tian.


"Selamat tinggal Tian, semoga kamu bahagia bersama Malla sahabatku." lirih Fanna melihat Tian sedang berdua bersama Malla.


END--