Halaman

Minggu, 18 Desember 2011

BOUGENVIL -- CERPEN

BOUGENVIL
Oleh: Chastfa Delion




BOUGENVILLE UNGU



Langit tampak cerah siang ini. Angin bertiup sepoi-sepoi hingga membuat rambut panjang Fanna berkibar indah. Siang ini memang membuat hati jadi damai. Udara sama sekali tak sepanas siang pada biasanya.

Fanna duduk disebuah kursi kayu di bawah rerimbunan pohon bunga Bougenvil ungu yang besar dan lebat. Sebuah buku gambar berada ditangannya. Wajahnya berseri-seri melihat apa yang ada di dalam buku gambar yang ia pegang. Dengan lincah tangan kanannya menorehkan garis arsiran sebuah seketsa wajah. Ia kembali tersenyum bangga dengan apa yang baru saja ia gambar.



"Sempurna!" ujarnya setelah memperhatikan gambar wajah seorang cowok yang ia lukis dengan tangannya sendiri.


Kembali teringat ia dengan kejadian sebulan yang lalu saat ia tengah duduk di tempat yang sama seperti sekarang ini.


Agustus 2010


"Sendirian aja?" seorang cowok duduk di sebelah Fanna. Fanna menoleh dan hampir tak percaya di tempat ini ia didatangi seorang pangeran tampan.

Tak ada jawaban, Fanna masih diam terpaku tak dapat berkata.

"Hallo?" cowok ganteng itu melambaikan tangannya tepat di depan wajah Fanna. Fanna pun tersadar.

"Eh, ... " Fanna salah tingkah. Cowok itu tersenyum melihat tingkah polah Fanna.

"Sedang apa kamu?" tanya cowok itu setelah berhenti tertawa.

"Aku?" Fanna masih saja salting. Cowok itu mengangguk.

"Menggambar." jawab Fanna singkat. Cowok itu melirik buku gambar Fanna.

"Boleh lihat?" tanya cowok itu ragu. Fanna mengangguk dan menyerahkan buku gambarnya pada cowok tersebut.

Cowok itu membolak-balik buku gambar Fanna satu persatu. Tiba-tiba cowok itu menoleh menatap Fanna dengan kening berkerut.

"Kenapa? Gambarku jelek ya?" wajah Fanna terlihat bingung.

"Bukan, bukan itu… malah bagus. Bagus banget. Tapi, kok semua gambar kamu cuma bunga?" tanya cowok itu.

"Aku suka bunga. Dan di bawah bunga bougenvil ini aku selalu menggambar . dia temanku." jelas Fanna dengan senyum manisnya.

"Tian! Buruan pulang! Udah sore nih." seorang cowok berteriak memanggil cowok yang duduk berada di samping Fanna. Cowok itu langsung menoleh pada teman yang memanggilnya.

"Sorry ya, gue harus pergi. Sampai jumpa!" pamit cowok yang tak lain bernama Tian itu pada Fanna. Setelah itu Tian berlari menjauh dari tempat Fanna duduk.

Fanna tersenyum sendiri mengingat sosok Tian. Memang mereka tak sempat berkenalan tapi Fanna bersyukur bisa tahu siapa nama cowok tersebut. Tian adalah kakak kelas Fanna yang sekarang duduk di kelas XII sedangkan Fanna duduk di kelas XI. Setiap sore Tian selalu berlatih basket di lapangan tak jauh dari temat Fanna duduk. Dan setiap hari pulalah Fanna diam-diam memperhatikan Tian, tentunya tanpa sepengetahuan Tian.


Sejak pertemuan waktu itu ada yang membuat Fanna jadi berubah. Kebiasaannya menggambar bunga sekarang berubah. Dalam benaknya ia selalu memikirkan wajah Tian. Dan selalu saja tanpa ia sadari wajah Tian menjadi obyek gambarnya. Fanna selalu tersenyum sendiri. Apa ia telah jatuh hati pada Tian?


"Fanna!" seseorang mengagetkan Fanna. Hingga membuat gadis itu terlonjak dan buru-buru menutup buku gambarnya.


"Ya ampun Malla, kebiasaan deh kagetin aku." protes Fanna. Malla sahabat Fanna langsung terkikik penuh kemenangan.


"Hehe.. Abisnya sih kamu selalu menyendiri gitu. Aku kan sahabat kamu masa aku dicuekin terus." Malla memanyunkan bibir mungilnya.


"Maaf, aku bosen aja di kelas. Jadi ya tempat yang paling enak di sini." ujar Fanna.


"Lagi gambar apa sih?" Malla ingin tahu.


"Ah, bukan apa-apa. Ke kelas aja yuk!" Fanna mengalihkan perhatian. Mereka pun berangkulan kemudian pergi menuju kelas.


--oOo--
Maret 2011


"Fanna! Aku datang!" seru Malla memasuki kamar Fanna saat gadis pemilik kamar bercat ungu itu berada di kamar mandi. Tak ada jawaban dari Fanna.


Malla langsung duduk di tepi tempat tidur Fanna. Tatapan matanya menyapu di setiap sudut kamar Fanna yang selalu rapi. Beberapa saat kemudian berhenti pada lembaran-lembaran kertas di atas meja belajar Fanna. Karena penasaran Malla pun beranjak menuju meja belajar Fanna dengan rasa penasaran.


Kedua bola matanya mengamati lebaran kertas milik Fanna yang agak sedikit berantakan. Selembar kertas bergambar itu telah berada di tangan Malla. Ia memperhatikan sungguh-sungguh pada sosok yang ada dalam kertas itu.


"Eh, kamu udah datang." Fanna menghampiri Malla. Malla langsung berbalik menghadap Fanna.


"Na, ini kak Tian kan?" Malla menyodorkan kertas yang di ambilnya tadi pada Fanna. Fanna kaget dan tak menjawab. Matanya menatap kosong arah luar dari balik jendela kamarnya.


Kedua gadis itu duduk berhadapan di atas kasur tempat tidur milik Fanna.


"Kenapa sih kamu nggak pernah jujur sama aku?" tanya Malla penuh harap.


"Maaf." itulah satu kata yang dapat Fanna ucapkan. Wajahnya sulit untuk menatap sahabat yang paling ia sayang itu.


"Seandainya kamu bilang dari dulu kalau kamu suka sama kak Tian. Mungkin aku bakal relain dia sama kamu." kata itu begitu saja terucap dari mulut Malla.


Fanna langsung menengadah menatap Malla yang sekarang ikut menunduk.


"Enggak La, aku bahagia lihat kamu sama kak Tian." setetes air mata mengalir dipipi Fanna.


"Fanna, maafin aku." Malla memeluk Fanna. Mereka pun menangis bersama.


Sebulan setelah pertemuan Fanna dengan Tian ternyata ada hal yang belum ia ketahui. Diam-diam Malla sahabatnya itu jadian dengan Tian. Fanna sangat kaget dan tak percaya dengan semua yang terjadi. Cowok yang diam-diam ia sukai ternyata menjadi milik sahabatnya.


Dan selama delapan bulan ini yang dapat Fanna lakukan adalah melihat sosok Tian yang sering bermain basket. Dengan setia Fanna duduk dan memperhatikan Tian dibawah rerimbunan pohon bunga Bougenvil ungu yang selalu menjadi teman setianya.


--oOo—

Aku akan mencoba melupakanmu walau sungguh sulit ku kira. Kau adalah seseorang yang mampu membuatku bertahan dalam satu cinta. Walau perasaan ini terpendam tapi ini kebahagiaan untukku sendiri. Biarkan cinta ini tersimpan dalam hatiku yang terdalam. Dan biarkanlah aku menjadi setitik kecil yang merindukanmu dibalik rimbunnya bunga bougenvil ini.

Shafanna Khairunisa

 

Fanna berjalan menjauh dari kursi kayu tempat ia biasa menyendiri dibawah pohon bunga Bougenvil. Ia meninggalkan sepucuk surat juga selembar kertas beserta gambar wajah Tian.


"Selamat tinggal Tian, semoga kamu bahagia bersama Malla sahabatku." lirih Fanna melihat Tian sedang berdua bersama Malla.


END--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar