
Ini tak seperti malam sebelumnya. Pada tengah malam ini aku masih terjaga. Entah apa yang membuatku seperti ini. Hatiku seperti terganjal sesuatu.
Aku menengok pada dinding kamar kostku. Sudah hampir pukul 23.00. Harusnya aku sudah terlelap sedari tadi. Apalagi aku selalu mudah lelah karena terlalu sibuk dengan kegiatan kampusku. Semua sangat menyita waktu dan juga tenagaku.
--oOo--
Aku bosan sekali, karena sedari tadi hanya berguling-guling di atas kasur. Sedangkan mataku tak jua merasakan kantuk. Aku pun mencoba bangkit dan ingin melakukan sesuatu. Walaupun sebenarnya aku tak tahu apa yang harus ku perbuat. Mengerjakan tugas? Ah.. Aku sangat malas.
Pada akhirnya ku putuskan menghidupkan radio kecil yang ada di kamar kostku. Aku memencet tombol mencari saluran yang sekiranya menarik. Dan aku menemukannya, suara penyiar radio itu sungguh indah di dengar. Aku jadi tersenyum sendiri. Pasti wajahnya ganteng, pikirku. Ah! Apa-apaan aku ini.
Ku cermati kata demi kata yang terucap dari suara indah sang penyiar. Hari ini adalah tanggal 21 Desember 2011. Awalnya aku tak mengerti apa yang sedang ia bahas. Dan lama-lama aku tahu juga. Ternyata penyiar itu sedang membahas tentang Hari Ibu yang kebetulan jatuh pada esok hari tanggal 22 Desember 2011.
Sang penyiar yang memiliki suara indah itu menelpon Ibunya yang berada di ujung sana secara on air di radio. Aku semakin tertarik untuk menyimak percakapan mereka. Sang penyiar pun berbicara dengan Ibunya. Menyapa, meminta maaf juga membicarakan hal yang lainnya. Tiba-tiba hatiku bergetar. Aku merasakan sesuatu yang menyeruak begitu saja ke dalam hatiku. Aku ingat ibu, ya aku tiba-tiba saja merindukannya.
Sungguh saat itu juga air mataku meleleh. Setelah mendengar sang penyiar dan sang ibu sedang berbincang. Aku terkesima dan sungguh tak percaya. Sang penyiar dengan beraninya meminta maaf atas segala kesalahan yang pernah ia lakukan pada sang ibu. Tjuga tentang segala kisah pahit selama hidup sang penyiar yang telah tega menyakiti ibunya sendiri.
Dan semua itu secara on air di radio. Sudah dapat dipastikan semua itu akan didengar oleh para pendengar setia di seluruh Jogja. Aku semakin terisak, merasakan haru. Ku dengar juga sang penyiar menangis dalam setiap kalimatnya. Dan itu menandakan betapa tulus semua perkataannya untuk sang ibu. Aku kagum dengannya. Andai aku bisa seperti itu.
Pikiranku langsung terbang jauh di sana. Di mana aku merindukan sosok seorang ibu. Ibu yang telah melahirkan dan membesarkanku hingga sekarang.
Sudah hampir setahun ini aku jauh dari keluargaku. Semenjak kuliah aku memilih hidup sendiri di kota. Tempat di mana aku sekarang menuntut Ilmu. Aku hidup sendiri di kostan. Jauh dari kehangatan keluargaku yang jauh di sana. Ibu, Ayah dan juga adikku.
Aku tersadar dari kebodohan diriku. Seminggu ini aku sangat sibuk, hingga aku melupakan kewajibanku. Aku jadi jarang menyapa keluargaku yang berada di desa. Aku jarang menelpon mereka, aku selalu sibuk dengan kegiatanku di sini. Ya Allah maafkan hambamu.
Bagaimana keadaan mereka? Aku pun tak tahu kabarnya. Tiga hari yang lalu aku bertindak bodoh. Aku sudah tega tak menjawab panggilan telpon dari keluargaku. Pasti itu dari ibu, dia merindukan aku, putrinya yang telah lama pergi menuntut ilmu. Aku juga menyayangkan bagaimana diriku bisa sekeji ini. Kenapa aku jadi seperti ini? Sedangkan pengorbanan mereka untuk menyekolahkanku hingga aku bisa kuliah di kota besar ini.
Keluargaku bukan orang yang berada. Ayahku hanyalah seorang petani dan ibuku adalah seorang penjual sayur di pasar. Bagaimana pengorbanan mereka untuk membahagiakanku juga adikku sangatlah tiada terkira banyaknya. Bagaimana keseharian ayahku membanting tulang, melawan teriknya matahari juga dinginya angin saat hujan tiba-tiba mengguyur tubuh ayahku yang sedang bekerja di ladang. Juga bagaimana rasa lelahnya ibu yang rela mengayuh sepeda pada pagi buta untuk pergi ke pasar menjajakan sayuran. Dan semua itu tak mudah, mengingat jauhnya jarak antara rumah kami dengan pasar. Berpuluh kilometer jauhnya ditambah dengan beban ibu membawa sayuran yang jumlahnya tak sedikit.
Di sini aku hanya bisa menangis merindukan mereka. Merasakan betapa dinginnya malam tanpa hangatnya kasih sayang keluarga. Terutama pelukan hangat kasih sayang ibuku yang teramat aku cintai.
Ingin rasanya aku memeluk beliau yang berada jauh di desa. Mengucapkan segala kata maaf atas semua rasa bersalahku selama ini. Ingin rasanya aku membalas segalanya yang telah mereka berikan terutama, Ibuku. Namun, semua itu mungkin terjadi semua sangat sulit ku kira. Pengorbanan dan kasih sayangnya tak kan mampu tertandingi oleh apapun di dunia ini.
Aku semakin menyadari betapa mereka, terutama ibuku adalah orang yang paling berharga di dunia ini. Semua tak akan mampu membaklas jasa keduanya.
Ibu, aku merindukanmu.
Aku ingin memelukmu. Aku ingin menumpahkan segala keluh kesah dan segala air mata kesedihan, yang menggenang di pelupuk mataku dalam pelukanmu. Karena aku tahu hanya kaulah yang paling mengerti akan diriku. Karena engkaulah segala kasih sayang yang mampu membuat kehangatan dalam hidupku.
Ibu, aku menyayangimu.
Rasa terima kasihku, tak akan pernah bisa membalas semua pengorbananmu. Aku ingin membalas semua ketulusanmu. Namun, aku tak tahu bagaimana caranya. Karena selama hidupku apa yang aku lakukan tak mampu membuatmu tersenyum. Aku hanya bisa membuatmu menangis dengan semua yang kulakukan. Dan semua itu terkadang tanpa ku sadari telah membuatmu menangis.
Ibu, aku sangat mencintaimu.
Izinkanlah aku memelukmu, mencium kakimu. Di mana surgaku ada pada kakimu.
Ibu, sudikah kau memaafkanku?
Memaafkan segala dosa yang telah ku perbuat selama ini. Yang tak pernah luput dari kesalahan.
Ibu, terima kasih atas segala yang telah kau berikan untukku, putrimu yang durhaka ini.
Ibu, engkaulah separuh nafasku dan juga hidupku ada pada dirimu.
Ibu, aku mencintaimu.
--oOo--
Pagi ini aku memutuskan untuk meninggalkan segala kesibukkanku di kota. Aku memilih bolos kuliah pagi ini. Aku ingin pulang ke rumahku yang berada jauh di ujung selatan sana. Aku sudah tak tahan lagi menahan rindu. Aku ingin memeluk ibu, aku mencium kaki ibu. Aku ingin meminta maaf padanya. Tak lupa aku akan mengucapkan segala rasa sayangku padanya. Aku ingin membalas semua yang ia berikan padaku. Aku ingin selalu membuatnya tersenyum. Aku ingin membuatnya menangis terharu menyaksikanku menjadi orang yang berhasil suatu saat nanti.
Aku memandang dari balik jendela bis yang ku naiki untuk pulang ke rumah. Terlihat sawah-sawah hijau yang membentang khas pedesaan. Bayangan kehangatan keluarga tergambar jelas di benakku. Aku sungguh sudah sangat rindu. Aku ingin segera sampai rumah dan memeluk Ibu juga Ayahku.
Ibu, Ayah tunggulah aku putrimu pulang ke istana kita.
END--