Halaman

Selasa, 27 Desember 2011

-Aku kepergok jatuh cinta-

Ratu Sweethella & Reza Anugrah



Author: Chastfa Delion

Title: Aku kepergok jatuh cinta
Genre: Romance

Main cast:
- Charista Estelle Fairylovva as Fairy
- Muhammad Reza Anugrah as Reza

Other cast:
- Priskalia Angelita as Priska
- Rafrie Fannia Putri as Rafrie
- Rafael Landry Tanubrata as Rafael

-cerita ini hanya fiktif belaka-


Siang yang begitu panas membuatku harus menikmatinya. Suara bising bergemuruh memekikkan telinga. Entah apa yang mereka lakukan yang pasti ku tahu mereka tak mungkin mendengarkan pelajaran yang begitu membosankan ini.

Matematika adalah pelajaran yang paling ku benci. Aku sungguh tak menikmatinya. Seperti saat ini. Aku hanya memainkan pensilku memutarnya tak beraturan di meja. Aku ingin pelajaran membosankan ini segera berakhir. Rasa kantuku tiba-tiba saja muncul. Dan lengkaplah sudah aku sungguh ingin keluar dari tempat ini.

Ku tatap sekelilingku. Masih seperti semula dengan kesibukan masing-masing. Mereka sama sepertiku tak memperhatikan pelajaran. Mungkin mereka bosan. Apalagi dengan guru yang sungguh menyebalkan. Setelah asyik menyapu keadaan sekelingku aku pandangan mataku pun tertuju pada arah luar.


Nah. Aku punya ide!
Aku tersenyum sendiri menatap halaman luar yang sedikit terlihat melalui celah jendela kelas. Beberapa saat kemudian tubuhku bergerak seiring dengan perintah otak. Aku mulai berjalan menuju arah Pak Guru yang tengah tenggelam dalam dunianya. Dunia rumus yang tertoreh dipapan putih besar didepan kelas. Setelah sampai aku melontarkan beberapa kalimat yang menyatakan aku ingin ijin keluar sebentar ke toilet. Namun, pada kenyataannya itu hanya alasanku saja.

***

Aku berjalan di sekitar koridor yang sepi tiada lalu lalang. Senyumku terkembang seiring dengan langkah kakiku yang terus berayun. Aku sudah berjalan beberapa meter meninggalkan kelas yang begitu payah itu. Dalam hatiku bersorak riang. Akhirnya aku bisa terbebas dari suasana membosankan.

Saat aku berjalan dibelokan menuju toilet. Pandanganku tertuju pada dua sosok yang tengah duduk di kursi taman. Seorang pria dan satu orang gadis yang tengah bercengkrama dengan mesranya. Apalagi tempatnya sangat sepi. Pasti lebih leluasa untuk mereka bertindak seperti itu. Ku lihat tangan si pria mengelus lembut pipi gadis itu. Gadis itu tampak tersipu dengan perlakuan pria di sampingnya yang sudah dapat ku pastikan itu pacarnya.

Aku bergidik geli melihat adegan itu. Namun, pandangan mataku tetap tak beralih menatap mereka berdua. Beberapa detik kemudian aku terperanjat. Astaga! Aku langsung menunduk berusaha memalingkan wajah dari sosok pria itu. Aku yakin ia mengetahui tindakan bodohku ini. Mata kami tadi sempat bertemu dan mungkin dia tahu kalau sedari tadi aku telah memperhatikanya bermesraan dengan pacarnya itu.

Aku sedikit mempercepat gerak kakiku berjalan ke toilet. Hingga akhirnya sampailah aku di toilet. Aku mengela nafas lega. Setidaknya aku terbebas dari tatapan garang pria itu. Aku mengelus dada.

***
Selesai memainkan air yang bergemercik di toilet. Segera ku pergi dari tempat ini. Aku sempat membasuh wajahku sekedar memberikan kesegaran dan penghilangkan kantuku. Aku pun membuka pintu dan berjalan keluar.

Seperti tadi koridor masih tampak sepi tak berpenghuni. Aku berjalan lagi menuju kelasku yang memang tak terlalu jauh dari tepat itu. Tapi, yang membuatku sedikit malas aku harus kembali melewati taman tempat dimana kedua sosok yang tadi telah ku pergoki sedang asyik bermesraan.

Aku menghela nafas panjang kemudian melanjutkan langkahku untuk segera masuk lagi kedalam kelas. Kini aku telah berusaha bersikap tenang seolah tak ada apa-apa di sekitarku. Padahal aku melihat betul kedua pasangan yang dimabuk asmara itu sedang duduk berdua. Aku mencoba bersikap acuh seolah tak ada lagi mereka berdua.

Aku sedikit melirik pada mereka berdua saat aku telah berada dua meter sebelum pintu kelasku menyambutku. Mereka sudah tak semesra tadi. Mungkin mereka malu karena tadi tanpa segaja telah terpergok olehku. Dan....
Ah.. Lagi-lagi mataku bertemu dengan pandangan sang pria. Dapat dipastikan aku terpergok lagi memperhatikan mereka. Aku tak peduli, toh dia sama sekali tak mengenalku. Dengan langkah pasti aku berjalan lagi mengangkat tanganku untuk mengetuk pintu kemudian masuk ke dalam kelas.

***
Burung-burung berkicau riang seolah menyapaku pagi ini. Aku berjalan santai setelah keluar dari angkot yang membawaku ke sekolah. Setelah sampai di pintu gerbang tiba-tiba saja ada seseorang yang mendorongku hingga ku jatuh tersungkur.

" Auww... " rintihu menahan sakit.

" Aduh, sorry-sorry gue nggak sengaja. Maaf ya gue buru-buru." ujar gadis itu kemudian bergegas pergi.

" Ah sialan bukannya bantu dia malah pergi. Nggak sopan banget!" umpatku sebal.

Aku sempat melihatnya sekilas. Aku tak asing dengan gadis itu dia adalah adik kelasku anak kelas XI. Ia tak asing untuku karena memang setiap paginya aku berangkat ke sekolah satu angkot dengannya. Tiba-tiba saja aku teringat sesuatu. Ada yang mengganjal di otakku. Ya. Tidak salah lagi, aku ingat gadis itu adalah gadis yang kemarin berduaan dengan pria itu. Dan aku sekarang juga tahu siapa sosok pria yang berdua dengan gadis itu dia adalah ketua OSIS sekolahku yang kebetulan seangkatan denganku. Namun, bebeda kelas tentunya.

" Hey, ngapain lo disini? Mau jadi suster ngesot?" suara seseorang membuyarkan lamunanku.

Aku langsung menoleh ke arahnya. Ia membantuku berdiri.

" Kenapa sih lo Fay?" tangannya melambai-lambay di depanku.

" Ah.. Eh.. Nggak kok. Tadi gue jatoh Raf. Sejak kapan lo disini?" ujarku pada Rafrie sahabatku.

" Belum lama sih. Gue kira lo udah gila tadi kaya suster ngesot." Rafrie terkikik.

" Ikh.. Apaan sih lo." mukaku berubah masam kemudian mencubit kecil lengannya.

" Auw.. Hehe.. Lo tadi di perhatiin tahu sama anak-anak yang lewat. Pasti mereka pada mikir deh lo tuh rada-rada gitu." ujar Rafrie masih meringis.

" Udah ah. Nggak penting. Yuk masuk kelas!" aku langsung menarik tasnya. Dan otomatis Rafrie juga ikut tertarik mengikuti langkahku.

***
Jam pulang sekolah akhirnya datang juga. Semua berhambur keluar kelas. Jengan wajah memelas gadis yang duduk disampikku meringis padaku.

" Entar aja ya pulangnya. Temenin gue ke toilet bentar. Gue kebelet nih. Janji deh entar lo gue anter pulang." Rafrie menarik pergelangan tanganku.

" Hmm.. Okelah." jawabku kemudian langsung mengendong tas miliku. Sebenarnya itu bukan masalah besar buatku malah aku beruntung bisa mengirit ongkos. Karena tak perlu naik angkot untuk pulang. Melainkan, Rafrie akan bertanggungjawab mengantarku pulang.

Selesai dari toilet aku dan Rafrie berjalan menuju parkiran. Sebelumnya kami melewati aula dimana terpasang rapi mading-mading hasil kreasi anak-anak kreatif di sekolahku. Dan lagi-lagi pandanganku terhenti pada dua sejoli yang kemarin ku lihat sedang berduaan.

Mereka sedang asyik melihat-lihat mading. Tapi, ku yakin bukan itu yang mereka lakukan melainkan mereka bercegkrama. Dan seperti kemarin itu kembali lagi aku kepergok oleh sang ketua OSIS. Ah.. Bukan main malunya. Untuk ketiga kalinya aku kepergok memperhatikan mereka.

Segera aku beralih pandang dari mereka. Kemudian mempercepat langkah kaki. Rafrie sempat bingung dengan sikapku. Namun, ia pun mengikuti langkahku.

" Huft.. Lega." Aku mengelus dada setelah sampai didepan mobil Rafrie.

" Kenapa sih lo aneh banget. Lega kenapa coba? Terus kenapa tadi cepet-cepet gitu jalannya?" bertubi-tubi bertanya padaku.

" Gue tadi tuh cepet-cepet gara-gara kepergok sama ketua OSIS itu." jawabku. Rafrie terlihat tak mengerti.

" Hah? Reza itu? Kepergok gimana?" tanya Rafrie setengah berteriak. Dengan sigap aku langsung membekap mulutnya.

" Ish.. Jangan keras-keras." ucapku setengah berbisik. Rafrie pun menggangguk.

Kemudian aku menceritakan padanya tentang kejadian kemarin itu. Saat aku memergoki sang ketua OSIS yang baru ku ingat ternyata bernama Reza dengan pacarnya yang bernama Priska tengah bermesraan di tampan sekolah. Dan pada saat itu pula Reza ternyata megetahui keberadaanku. Seperti kejadian yang baru saja terjadi.

Tawa Rafrie akhirnya meledak. Aku langsung manyun.

" Puas lo?" kataku ketus.

" Hahaha.. Ampek segitunya. Lo yang mergokin kenapa lo yang kepergok." Rafrie semakin tertawa.

***

Beberapa hari setelah itu aku semakin sering melihat Reza bersama pacarnya yang bernama Priska itu. Namun, aku tak peduli. Kenapa aku harus di repotkan dengan hal itu lagi pula itu tak ada urusannya denganku. Aku selalu mengalihkan pandanganku dari kedua sosok itu. Malas sekali memperhatikan mereka. Tak ada urusannya deganku.
Menurutku justru mereka menyebalkan.
Aish.. Apa-apaan aku ini kenapa sebal dengan mereka? Ah.. Sudahlah aku tak perduli.

Hari-hariku seperti biasanya berangkat sekolah dengan angkot. Tapi, ada yang sedikit berbeda aku tak lagi berangkat satu angkot bersama Priska. Kemana dia?
Ya mungkin bersama Reza itu kali ya?

***

Aku melihat sesuatu yang aneh sore ini. Setelah selesai mengikuti ekskul aku berjalan melewati koridor. Pandanganku menyapu setiap sudut dan akhirnya terhenti pada satu titik. Dimana seorang pria tengah duduk sendiri disalah satu kursi di lorong koridor. Dia adalah Reza. Ada yang aneh ku pikir kenapa dia hanya sendiri. Tak ada Priska seperi sebelumnya. Dan wajahnya juga terlihat murung.

Aku terus berjalan dan sekarang telah berada tak jauh didepannya. Aku tetap memperhatikannya duduk dalam wajah yang begitu sendu. Dan entah mengapa dia selalu mengetahui keberadaanku. Dia menatapku dari jarak dua meter. Aku langsung melengos dan berjalan lebih cepat meninggalkan tempat menyeramkan itu. Seseram tatapan elang mata Reza.

Saat menunggu angkot aku terbayang -bayang sosok Reza. Seperti ada rasa kasihan padanya. Dia terlihat murung sore ini dan yang lebih aneh lagi ia tak lagi besama Priska seperti biasanya. Mungkin mereka sedang ada masalah. Tapi, entahlah. Segala pikiranku berhambur pergi ketika ku dapati sebuah angkot siap membawaku pulang sore ini. Tanpa pikir panjang aku pun segera menaikinya.

***

‎" Raf, gue mau cerita sama lo." ujarku pada Rafrie yang tengah asyik menyalin catatan ketika kami berada di perpustakaan istirahat kedua siang ini.

" Ngomong apa?" pandangannya tak beralih dari buku didepannya.

" Ini soal Reza." aku setengah berbisik.

" Hah? Lo suka ya sama dia?" Rafrie langsung meninggalkan kegiatannya mencatat.

" Apaan sih lo. Bukan! Tapi, gue kemaren liat dia kaya lagi sedih gitu." ujarku pada Rafrie.

" Nah, tuh kan! Lo kayanya emang suka sama Reza. Buktinya lo khawatir sama dia. Apa donk namanya kalau bukan suka?" Rafrie sok menebak-nebak.

" Ah.. Lo kok gitu sih. Gue kan cuma bilang. Bukan berarti gue suka dia kan." aku segera melengos. Ku dengar Rafrie berujar.

" Suka juga nggak apa-apa kok. Dia juga keren ketua Osis lagi. Tapi, kerenan Rafael sih." ujarnya membangga-banggakan pacarnya yang bernama Rafael itu.

***

Seperti kemarin aku pulang sore lagi. Setelah berpisah dengan Rafrie yang telah di jemput Rafael aku langsung melangkah pergi. Sebenarnya aku iri melihat mereka berdua. Sampai kelas XII aku masih saja menjomblo. Tapi, apa mau di kata lah memang begini.

Aku tersenyum sendiri. Hingga aku di kagetkan saat aku berbelok dari tikungan ruangan menuju Lobi. Ada seseorang di depanku. Aku terperanjat kaget dia adalah Reza. Aku mencoba menghindar namun ia menghalangiku. Suasana begitu sepi tak berpeghuni sore ini. Mau apa orang ini?

" Permisi, gue mau lewat." ucapku tanpa menatapnya. Ia hanya diam dan terus menghalangiku.

" Please! Gue mau lewat." sambungku lagi.

Dia langsung bergeser dan memberikan ruang gerak padaku. Tanpa banyak berpikir aku langsung melangkah pergi.

" Lo suka sama gue ya?" ucapnya tiba-tiba. Sejenak langkahku terhenti. Apa-apaan orang ini? Seenaknya saja berucap. Aku mengernyitkan dahi kemudian berbalik melihat ke arahnya. Ku lihat senyum yang tersungging di bibirnya.

" Lo suka sama gue?" tanyanya lagi. Aku tak terima. Seenaknya saja dia. Atas dasar apa coba?

" Maksud lo apa? “

" Terus kenapa lo selalu perhatiin gue, Fairy?" Reza menyebut namaku. Aku kaget dari mana dia tahu namaku?

" Dari mana lo tahu nama gue?"

" Apa yang nggak gue tahu. Lo lupa siapa gue?"

Sombong sekali orang ini, pikirku.

" Whateverlah. Gue nggak peduli. Mending lo tarik kata-kata lo tadi. Karena gue sama sekali nggak suka lo." ujarku tanpa komando. Entah mengapa itu keluar begitu saja dari mulutku. Aku pun langsung bergegas pergi darinya.

***

Hal menyebalkan terjadi di hari berikutnya. Lagi-lagi aku bertemu dengan Reza. Kali ini bukan aku yang memperhatikannya. Tapi, justru dia yang terlihat menatapku dari kejauhan.

" Fay, Reza merhatiin lo tuh." Rafrie menyenggol lenganku keteika kami sedang berjalan.

" Apaan sih lo." kataku cuek.

Lagi-lagi aku bingung dengan sikap Reza itu yang seolah menghantuiku. Dan entah mengapa bayangannya tak pernah hilang dari benakku.

" Raf, itu Priska kan?" aku bertanya pada Rafrie.

" Oh iya. Cowok barunya kali ya yang sebelahnya itu?"

" Maksud lo?"

" Ya, Iya. Dia kan udah putus sama Reza. Jadi, kesempatan lo deh buat bisa sama Reza." kata-kata Rafrie semakin ngelantur. Namun, bukan itu yang membuatku kaget. Melainkan putusnya Reza dan Priska yang terkesan mendadak itu. Dan mungkin hal itulah yang membuat Reza terlihat murung beberapa hari belakangan.

***

Aku berjalan menuju taman depan sekolah sore ini. Menapaki rumput hijau yang tumbuh subur diantara bunga-bunga di taman. Pandanganku terhenti pada sosok yang tak jauh dari tempatku berdiri. Ia sedang duduk termenung sendiri di sebuah kursi.

Perlahan aku mendekatinya. Entah ada angin dari mana aku ingin duduk melepas lelah. Namun, hanya kursi yang ditempati sosok pria itu yang ada. Aku semakin mendekat dan...
Ah. Kenapa lagi-lagi dia?

Aku hendak pergi. Namun, tangan pria itu. Pria yang tak lain adalah Reza itu menahanku. Dia tersenyum dengan tulus. Dan baru ku sadari ternyata senyumnya sungguh manis ditambah kedua gigi kelincinya itu yang sedikit terlihat.

" Mau kemana lo? Duduk disini aja. Gue tahu kok lo pengen duduk."

Sungguh aneh kurasa. Aku terbius dengan kata-katanya. Aku duduk begitu saja disampingnya. Dia tersenyum menatapku. Sedang aku hanya diam tanpa membuka mulut.

" Sorry, kata-kata gue kemaren. Mungkin udah nyinggung lo." ujarnya padaku.

Aku masih bingung dan terpaku.

" Lo heran ya sama gue? Dulu lo sering pergokin gue sama cewek gue kan? Dan buat sekarang dia mantan gue. Gue tahu kok entah lo sengaja atau enggak tapi gue yakin lo perhatiin gue."

" Em.. Sorry, gue nggak sengaja. Dan gue nggak bermaksud apa-apa kok." aku merasa tak enak.

" Nggak apa-apa kok. Lagian gue juga udah putus sama dia. Sama cewek yang udah nduain gue." Reza langsung menunduk.

Aku kembali bingung. Aneh benar cowok ini. Kenapa dia curhat begitu padaku?

" Kita belum sempat kenalan kan? Gue Reza." ia mengulurkan tangan.

" Fairy." aku tersenyum tipis kemudian menjabat tangannya.

Selang beberapa menit setelah itu. Aku merasa larut dalam kebersamaan dengannya. Aku tak canggung lagi bercanda dengannya. Ternyata, dia juga sosok yang menyenangkan.

Hari semakin petang. Aku hampir melupakan nasibku sore ini. Bisa saja aku tak mendapatkan angkot sore ini. Kalau aku tak segera pulang.

" Za, sorry ya gue harus pulang sekarang." pamitku kemudian segera menggendong tasku.

" Fay, tunggu! Gue anter lo pulang ya? Ini udah sore." tawarnya.

" Em.. Tapi, gue...."

" Udahlah. Lo gue anter aja. Lagian jam segini angkot kan jarang lewat."

Dari mana ia tahu kalau aku pulang naik angkot?
Aku pun akhirnya menggangguk. Dan Reza mengantarku pulang dengan motor ninja merahnya.

***

Sejak sore itu aku dan Reza sekarang berteman baik. Bahkan dia sering mengantarku pulang sekolah.

" Ciee.. Tuh kan Fay, lo sekarang malah deket kan sama Reza." Rafrie menggodaku.

" Apaan sih. Biasa aja kali."

" Sekarang cuma biasa. Besok-besok siapa tahu jadi luar biasa. Semoga cepet jadian deh."

Aku tersipu dengan kata-kata Rafrie tadi. Apa benar aku menyukai Reza? Entahlah..

Tapi, ada getar yang tak biasa saat aku bersama Reza. Saat berdekatan dengannya jantungku terasa berdebar-debar.

Minggu sore itu ada yang tak biasa didepan rumahku. Aku pun keluar rumah. Ku lihat sebuah motor ninja merah terparkir di halaman rumah. Dan ternyata yang datang adalah Reza.

Reza mengungkapkan maksudnya datang ke rumah. Ternyata dia ingin mengajakku ke pantai. Setelah berpamitan dengan mama aku dan Reza pun segera meluncur pergi.


Aku menatap gulungan-gulungan ombak yang terus berkejar-kejaran. Suasana yang sangat indah di tambah hembusan segar angin sore yang cerah ini.

" Lo suka?" tanya Reza.

Aku menggangguk tanpa beralih menatap gelombang air pantai.

" Gue juga suka tempat ini. Tapi, gue lebih suka sama lo."

Aku langsung menoleh pada Reza. Apa aku tak salah dengar?
Reza tersenyum padaku sangat manis. Tatapan matanya mampu menusuk kedalam relungku. Ia meraih tanganku.

" Sejak mata kita saling bertemu. Gue selalu lihat bayangan lo dibenak gue. Gue yakin ini bukan hal yang biasa. Dan gue yakin betul gue jatuh cinta sama lo."

Aku masih membisu mendengar ucapan Reza yang terlihat serius.

" Gue sayang sama lo. Fairy, apa lo mau terima gue sebagai pacar lo?" tangannya semakin erat menggenggam tanganku. Aku menggangguk padanya.
Senyumnya kembali terukir. Kemudian ia langsung mendekapku kedalam pelukannya yang hangat. Dapat ku rasakan tangannya membelai lembut rambutku yang terurai. Ia membisikan sesuatu ditelingaku.

" I Love you, Fairy."

" I Love you too." aku menjawabnya.

- END-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar