![]() |
| Rangga Dewamoela Soekarta |
Author: Chastfa Delion
Main cast:
- Nimona Nikimmy Otawa as Nimona
- Rangga Dewamoela Soekarta as Rangga
- Charista Estelle Fairylovva as Fairy
- Nimona Nikimmy Otawa as Nimona
- Rangga Dewamoela Soekarta as Rangga
- Charista Estelle Fairylovva as Fairy
Seorang gadis berambut panjang hitam itu tak beralih menatap apa yang ada dihadapannya. Sesekali senyumnya terukir mengiasi wajah manisnya. Kedua lesung pipitnya semakin membuat gemas siapa saja yang melihatnya. Ia sama sekali tak beralih pandang bahkan matanya sedikit pun tak berkedip.
DOR!!!
Brakk. Disaat itu juga tanpa ia sadari kepalanya menghantam pintu yang sedari tadi menjadi tempat persembunyiannya. Suara itu berhasil membuatnya kaget. Hingga hadiah kecil namun, sukses membuatnya meringis didapatkannya. Gadis itu tampak menoleh dengan tangan masih memegang kepalanya yang memerah dan terasa cenat cenut.
PLAK!
Tangan kiri gadis itu menampar pelan lengan seseorang yang telah ada didepannya. Seseorang yang tak lain telah membuatnya kesal beberapa detik lalu.
"Auww.. Sakit." sosok gadis cantik didepannya itu meringis.
"Kebiasaan banget sih lo. Lagi asyik-asyik mandangin pangeran gue juga. Malah lo kagetin. Jadi, nyut-nyutan kepala gue." Nimona -nama gadis itu- langsung menatap kesal gadis cantik berbandana hijau dihadapannya.
"Sorry, gue nggak bermaksud. Abisnya sih lo tinggalin gue sendirian di tolilet. Dasar nggak setia kawan. Lo lupa punya sahabat bernama Fairy ini?" gadis itu menunjuk dirinya. Nimona meringis sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hehe~ Sorry deh, gue yang salah. Maafin ya? Ya? Ya?" Nimona langsung merangkul Fairy sahabatnya. Alis matanya naik turun meyakinkan sahabatnya itu.
"Hmm.. Oke deh." Fairy berkata datar. Sembari memutar kedua bola mata coklatnya.
Nimona kembali tersadar kemudian menatap kedepan. Kakinya maju dua langkah sembari bola matanya tak berhenti celingak celinguk melihat sekeliling. Fairy menggampirinya.
"Argh.. Pangeran gue ilang." rengek Nimona setelah mengetahui seseorang yang sedari tadi ia perhatikan. Ternyata, telah hilang di makan tikungan koridor sekolah.
Fairy menepuk-nepuk pelan punggung Nimona.
"Sabar! Kalau jodoh nggak kemana. Cup. Cup. Cup." Fairy berkata tenang.
"Gara-gara lo ni! Argh... " Nimona melengos.
DOR!!!
Brakk. Disaat itu juga tanpa ia sadari kepalanya menghantam pintu yang sedari tadi menjadi tempat persembunyiannya. Suara itu berhasil membuatnya kaget. Hingga hadiah kecil namun, sukses membuatnya meringis didapatkannya. Gadis itu tampak menoleh dengan tangan masih memegang kepalanya yang memerah dan terasa cenat cenut.
PLAK!
Tangan kiri gadis itu menampar pelan lengan seseorang yang telah ada didepannya. Seseorang yang tak lain telah membuatnya kesal beberapa detik lalu.
"Auww.. Sakit." sosok gadis cantik didepannya itu meringis.
"Kebiasaan banget sih lo. Lagi asyik-asyik mandangin pangeran gue juga. Malah lo kagetin. Jadi, nyut-nyutan kepala gue." Nimona -nama gadis itu- langsung menatap kesal gadis cantik berbandana hijau dihadapannya.
"Sorry, gue nggak bermaksud. Abisnya sih lo tinggalin gue sendirian di tolilet. Dasar nggak setia kawan. Lo lupa punya sahabat bernama Fairy ini?" gadis itu menunjuk dirinya. Nimona meringis sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hehe~ Sorry deh, gue yang salah. Maafin ya? Ya? Ya?" Nimona langsung merangkul Fairy sahabatnya. Alis matanya naik turun meyakinkan sahabatnya itu.
"Hmm.. Oke deh." Fairy berkata datar. Sembari memutar kedua bola mata coklatnya.
Nimona kembali tersadar kemudian menatap kedepan. Kakinya maju dua langkah sembari bola matanya tak berhenti celingak celinguk melihat sekeliling. Fairy menggampirinya.
"Argh.. Pangeran gue ilang." rengek Nimona setelah mengetahui seseorang yang sedari tadi ia perhatikan. Ternyata, telah hilang di makan tikungan koridor sekolah.
Fairy menepuk-nepuk pelan punggung Nimona.
"Sabar! Kalau jodoh nggak kemana. Cup. Cup. Cup." Fairy berkata tenang.
"Gara-gara lo ni! Argh... " Nimona melengos.
***
- Fairy's POV -
Jadi, seperti itulah yang namanya jatuh cinta. Nggak siang, nggak malam, nggak panas, nggak hujan, nggak gelap, nggak terang wajah seseorang itu selalu terbayang. Seperti itulah yang gue perhatiin beberapa waktu ini pada Nimona. Sahabat gue yang satu itu lagi jatuh cinta ternyata.
Setiap hari di sekolah selalu bikin gue repot gara-gara satu nama siapa tuh Rangga. Ya. Nama cowok yang ditaksir Nimona itu Rangga. Setiap ngobrol, smsan, telpon-telponan sama dia. Selalu aja dia ngomongin Rangga. Gimana gue nggak bosen coba? Tapi, ya udahlah dia kan sahabat gue. Jadi, apa salahnya gue dukung dia yang lagi kasmaran itu.
Bermula saat itu gue lagi ke kantin bareng Nimona. Nah disaat itu ternyata ada segerombolan cowok kelas XI IPA3 lewat. Tiba-tiba aja Nimona yang lagi pegang saus itu malah beralih pandang sama cowok-cowok yang lewat itu. Gue jadi heran dan mikir jangan-jangan sahabat gue ini rada sakit. Tangan gue pun melambai-lambai didepan muka Nimona.
"Hey.. Bengong aja lo!"
Nimona langsung sadar terus ngeliat ke arah gue.
"Noh.. Tuh lihat!" gue pun nunjuk mangkok bakso Nimona. Wajahnya langsung berubah menyesal gara-gara baksonya penuh dengan saus.
"Kok lo nggak bilang sih." Nimona hanya menatap mangkuk baksonya sambil meletakkan botol sausnya.
"Salah sendiri lo tadi ngelamun. Liat apa sih?"
Betapa anehnya. Wajah Nimona jadi berubah berseri.
"Tadi itu yang lewat. Cowok ganteng." Nimona berkata dengan wajah berbinar. Memandang ke atas seolah-olah diatasnya ada bayangan sesuatu yang ia pikirkan.
"Hah? Lo bener-bener nggak sakit kan?" gue yang tadinya pegang sendok langsung meletakkannya. Kemudian gue pun menempelkan punggung tangan gue di kening Nimona.
"Ish.. Apaan sih." Nimona langsung menepis tangan gue.
"Gue kira lo sakit." tanpa basa-basi gue kembali melahap bakso gue.
"Pokoknya gue harus cari tahu siapa cowok itu sebenarnya." semangat Nimona. Gue cuma nengok sekilas Nimona yang lagi berbinar itu. Sepertinya gara-gara khayalannya itu dia jadi kenyang. Soalnya setelah itu bahkan Dia nggak peduli lagi sama baksonya. Setelah itu dia juga langsung ngajak gue balik ke kelas.
***
Author's POV
"Fairy...." Nimona dengan langkah tergopoh langsung menghampiri Fairy yang sibuk menyalin tugas Fisika temannya.
"Apaan sih pakai teriak-teriak gitu." kesal Fairy menatap Nimona.
"Gue punya kabar yang menghebohkan." jelasnya.
"Apa?" tanya Fairy dengan wajah tanpa menatap Nimona. Matanya terus terpaku pada jawaban-jawaban soal Fisika yang baru ia salin.
"Ini soal cowok kemarin. Namanya Rangga." ujar Nimona. Fairy langsung menatap Nimona.
"Rangga? Kok gue asing banget sih sama nama itu?" kening Fairy berkerut.
"Ya iyalah orang.... " ucapan Nimona terpotong. Bu Lisda guru Fisika mereka tiba-tiba masuk ke dalam kelas.
Fairy menyesal kenapa tadi ia mau menanggapi omongan Nimona yang membuatnya jadi ketahuan belum mengerjakan tugasnya. Begitu pula dengan Nimona yang ternyata juga lupa tak mengerjakan tugasnya. Dan hadiah untuk mereka pagi ini adalah... "Kalian saya bebaskan dari pelajaran saya. Silakan keluar!" begitulah kata Bu Lisda. Betapa baiknya Bu Lisda ini.
Kalimat halus yang harusnya menyenangkan itu tak seperti kenyataannya. Semua itu artinya tanpa disadari berarti mengusir Nimona dan Fairy dari kelas. Setelah itu? Kedua gadis yang beruntung itu. Ah.. Tidak. Tetapi, malang ya itu yang tepat. Akan mendapatkan hukuman mereka. Mengerjakan tugas Fisika sepuluh kali lipat dari tugas sebelumnya.
Dengan pasrah Nimona dan Fairy keluar kelas. Ada gurat penyesalan dari kedua wajah gadis tersebut. Apalagi Fairy, ingin rasanya ia mengomel pada sahabat yang ada disebelahnya tersebut.
"Sial banget sih. Kenapa harus dikeluarin gini. Gara-gara lo sih." Fairy menyalahkan Nimona. Nimona malah asyik celingak celinguk mencari sesuatu di sekitar koridor.
"Eh.. Lo malah diem sih." Fairy mencubit lengan Nimona dengan mata yang melotot kesal.
"Sorry deh. Tapi, kan... Eh lihat tuh ada Rangga." Nimona berkata antusias saat melihat beberapa cowok berpakaian olah raga melintas menuju lapangan.
Tangan Nimona menunjuk ke arah cowok bernama Rangga. Fairy sudah dapat menebak yang mana sosok Rangga. Karena, dari beberapa cowok yang melintas tersebut. Sangatlah tak asing baginya dan hanya sosok pria berpipi tembem -Rangga- yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
"Sini! Ayo ikut gue." tanpa komando lagi Nimona menarik paksa Fairy agar megikuti langkahnya.
"Lo gila apa? Sembunyi dibalik semak-semak kaya gini. Lo pikir enak?" cerocos Fairy sembari menyibakkan daun pohon didepannya.
"Sstt.. Diem kenapa sih?" Nimona terus memperhatikan gerak gerik para siswa yang sedang pelajaran olah raga dari balik semak-semak.
Fairy hendak berdiri. Namun, dengan sigap tangan Nimona menenggelamkan kepala Fairy dalam persembunyiannya di semak-semak. Bibir Fairy tampak kesal. Apalagi tanpa sengaja tangan Nimona telah sukses membuat rambutnya berantakan.
Masih kesal dengan aksi Nimona tadi. Fairy langsung mengambil posisi duduk diatas rumput. Ia menoleh sebentar pada Nimona yang terlihat masih mengamati para siswa yang sedang berolah raga. Kemudian ia pun mengambil handphone dari saku roknya dan memilih untuk bersms ria tanpa memperdulikan Nimona.
Sejam kemudian Nimona telah puas dengan apa yang baru saja ia lihat. Dengan langkah yang santai ia melangkah di koridor bersama Fairy.
"Gue puas banget." ucap Nimona dengan langkahnya yang terus berayun.
"Lo puas, gue menderita di gigit semut." runtuk kesal Fairy. Nimona langsung menoleh dan meringis.
"Kenapa lo? Puas kan?" Fairy melotot. Dan kembali melangkahkan kakinya. Nimona langsung melangkah menyejajari Fairy.
"Sorry.. Sorry deh." Nimona memohon.
"Nggak, gue maafin. Lo udah bikin sial gue dua kali." Fairy terus melangkah.
"Ayolah! Please! Gue janji deh gue bakal... Em.. Gue kerjain tugas Fisika lo." ujar Nimona spontan. Fairy langsung menoleh. Berpikir sejenak kemudian tersenyum.
"Oke. Gue maafin lo." Fairy tersenyum. Namun, beda dengan ekspresi Nimona yang mendadak menyesal karena ucapannya tadi. Tapi, kelapa telah menjadi santan. Kata-katanya tadi sudah deal. Dengan terpaksa ia akan mengerjakan tugas Fairy.
***
"Sampai kapan lo gini terus? Udah dua bulan ini lo cuma perhatiin Rangga dari jauh." tanya Fairy pada Nimona.
"Em.. Gue nggak tahu. Gue malu mau ajak dia kenalan." jawab Nimona.
Fairy menghela nafas sebentar.
"Kenapa nggak nyari cowok lain sih? Disini kan cowok nggak cuma dia."
Nimona langsung menoleh pada Fairy.
"Gue tuh sukanya sama dia. Ya walaupun... " Nimona teringat kata-kata temannya yang bernama Rieka. Rieka adalah teman smpnya yang kebetulan sekelas dengan pangeran pujaannya. Dari Rieka lah ia tahu banyak tentang Rangga.
Rangga Dewamoela Soekarta adalah murid pindahan yang baru tiga bulan lalu pindah di sekolah Nimona. Sifatnya sangat dingin dan lebih banyak diam. Menurut info dulunya Rangga adalah murid yang bandel dan sangat nakal. Bahkan ia tak pernah absen dalam kegiatan tawuran. Begitulah menurut penuturan Rieka pada Nimona. Nimona sempat kaget mendengar semua itu. Ia sama sekali tak menyangka pangeran pujaannya yang dulunya punya masa lalu kelam. Namun, yang namanya suka. Mau diapakan lagi. Nimona telah dibutakan oleh cinta. Ia tetap menyukai Rangga apa adanya.
***
Nimona langsung menghentikan langkahnya ketika orang yang ada didepannya berhenti. Sosok itu menoleh dan mendapati dirinya yang sedari tadi kepergok membuntuti sosok itu.
Tatapan tajam cowok didepan Nimona telah membiusnya seketika. Wajah yang dingin yang terlihat teduh membuat Nimona terpaku. Perlahan cowok tembem yang tak lain adalah Rangga melangkah padanya.
"Lo bisa nggak sih nggak ngikutin gue?" Rangga berkata dingin.
"G.. Gue.. " Nimona tak mampu menjawab.
"Gue bukan artis yang bisa lo perhatiin setiap hari. Berhenti urusin kehidupan gue. Gue nggak suka." Rangga tetap dingin. Kemudian membalik badanya melangkah pergi. Baru beberapa langkah Rangga berjalan. Nimona berteriak padanya.
"Rangga.. Gue suka sama lo." kalimat itu meluncur mulus begitu saja dari mulutnya. Nimona langsung menutup mulutnya dengan tangan. Ia tak menyangka akan berkata begitu.
Rangga langsung menoleh. Air mukanya tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Sayang, gue nggak suka lo." kalimat itulah yang keluar dari mulut Rangga. Ia pun melanjutkan langkahnya tanpa rasa bersalah.
Jeblerr..
Bagai tersambar petir di siang bolong. Itulah yang dirasakan Nimona sekarang. Kalimat yang dilontarkan Rangga berhasil membuatnya diam terpaku. Sakit. Pastilah itu yang ia rasakan. Tak terasa air matanya mengalir begitu saja.
***
"Gue benci Rangga. Gue benci... Hiks.." Nimona menangis dipelukan Fairy. Sudah dua hari ini ia tak berangkat kesekolah.
"Cowok sombong. Dia pikir dia siapa? Dasar jahat." umpat Nimona lagi.
"Cup. Cup. Cup. Udahlah Mon, jangan terlalu dipikirin cowok kaya dia. Lo harus kuat!" Fairy membelai lembut rambut sahabatnya. Nimona terdiam masih dengan tangisannya.
"Harusnya gue tuh tahu diri. Dia tuh emang cowok jahat. Gue benci dia... "
***
Dua hari Nimona tidak bersekolah setelah kejadian menyakitkan itu. Ia pun bangkit dari keterpurukan. Dalam benaknya ia berjanji akan melupakan cowok dingin dan menyebalkan itu dari hatinya.
Seminggu setelah itu Nimona, sudah ceria lagi seperti sedia kala. Ia benar-benar telah melupakan hal yang berhubungan dengan Rangga. Ia tak mau lagi menjadi penggagum Rangga. Itu lah yang ia lakukan untuk menata kembali hatinya.
Nimona berjalan santai diantara lalu lalang para siswa siswi lain. Tiba-tiba tak sengaja matanya bertemu dengan mata dingin Rangga. Tanpa berpikir panjang ia langsung melengos begitu saja.
***
Sore yang begitu sejuk bersama angin yang menerpa tubuhnya Nimona berdiri dipinggir jalan menunggu angkutan umum. Semua tampak sepi karena sebagian besar murid telah pulang. Ia tetap berdiri dengan kesendiriannya. Tatapan matanya tiba-tiba saja terusik oleh seseorang yang melintas didepannya. Tanpa ia pedulikan Nimona tetap diam tak bergeming.
Kemudian ia memilih untuk melangkah meghindar dari sosok yang ternyata mencuri padang padanya. Nimona tetap melangkah.
"Semudah itu lo lupain gue?" sosok itu berkata dan membuat Nimona menoleh pada sosok tersebut.
- Fairy's POV -
Jadi, seperti itulah yang namanya jatuh cinta. Nggak siang, nggak malam, nggak panas, nggak hujan, nggak gelap, nggak terang wajah seseorang itu selalu terbayang. Seperti itulah yang gue perhatiin beberapa waktu ini pada Nimona. Sahabat gue yang satu itu lagi jatuh cinta ternyata.
Setiap hari di sekolah selalu bikin gue repot gara-gara satu nama siapa tuh Rangga. Ya. Nama cowok yang ditaksir Nimona itu Rangga. Setiap ngobrol, smsan, telpon-telponan sama dia. Selalu aja dia ngomongin Rangga. Gimana gue nggak bosen coba? Tapi, ya udahlah dia kan sahabat gue. Jadi, apa salahnya gue dukung dia yang lagi kasmaran itu.
Bermula saat itu gue lagi ke kantin bareng Nimona. Nah disaat itu ternyata ada segerombolan cowok kelas XI IPA3 lewat. Tiba-tiba aja Nimona yang lagi pegang saus itu malah beralih pandang sama cowok-cowok yang lewat itu. Gue jadi heran dan mikir jangan-jangan sahabat gue ini rada sakit. Tangan gue pun melambai-lambai didepan muka Nimona.
"Hey.. Bengong aja lo!"
Nimona langsung sadar terus ngeliat ke arah gue.
"Noh.. Tuh lihat!" gue pun nunjuk mangkok bakso Nimona. Wajahnya langsung berubah menyesal gara-gara baksonya penuh dengan saus.
"Kok lo nggak bilang sih." Nimona hanya menatap mangkuk baksonya sambil meletakkan botol sausnya.
"Salah sendiri lo tadi ngelamun. Liat apa sih?"
Betapa anehnya. Wajah Nimona jadi berubah berseri.
"Tadi itu yang lewat. Cowok ganteng." Nimona berkata dengan wajah berbinar. Memandang ke atas seolah-olah diatasnya ada bayangan sesuatu yang ia pikirkan.
"Hah? Lo bener-bener nggak sakit kan?" gue yang tadinya pegang sendok langsung meletakkannya. Kemudian gue pun menempelkan punggung tangan gue di kening Nimona.
"Ish.. Apaan sih." Nimona langsung menepis tangan gue.
"Gue kira lo sakit." tanpa basa-basi gue kembali melahap bakso gue.
"Pokoknya gue harus cari tahu siapa cowok itu sebenarnya." semangat Nimona. Gue cuma nengok sekilas Nimona yang lagi berbinar itu. Sepertinya gara-gara khayalannya itu dia jadi kenyang. Soalnya setelah itu bahkan Dia nggak peduli lagi sama baksonya. Setelah itu dia juga langsung ngajak gue balik ke kelas.
***
Author's POV
"Fairy...." Nimona dengan langkah tergopoh langsung menghampiri Fairy yang sibuk menyalin tugas Fisika temannya.
"Apaan sih pakai teriak-teriak gitu." kesal Fairy menatap Nimona.
"Gue punya kabar yang menghebohkan." jelasnya.
"Apa?" tanya Fairy dengan wajah tanpa menatap Nimona. Matanya terus terpaku pada jawaban-jawaban soal Fisika yang baru ia salin.
"Ini soal cowok kemarin. Namanya Rangga." ujar Nimona. Fairy langsung menatap Nimona.
"Rangga? Kok gue asing banget sih sama nama itu?" kening Fairy berkerut.
"Ya iyalah orang.... " ucapan Nimona terpotong. Bu Lisda guru Fisika mereka tiba-tiba masuk ke dalam kelas.
Fairy menyesal kenapa tadi ia mau menanggapi omongan Nimona yang membuatnya jadi ketahuan belum mengerjakan tugasnya. Begitu pula dengan Nimona yang ternyata juga lupa tak mengerjakan tugasnya. Dan hadiah untuk mereka pagi ini adalah... "Kalian saya bebaskan dari pelajaran saya. Silakan keluar!" begitulah kata Bu Lisda. Betapa baiknya Bu Lisda ini.
Kalimat halus yang harusnya menyenangkan itu tak seperti kenyataannya. Semua itu artinya tanpa disadari berarti mengusir Nimona dan Fairy dari kelas. Setelah itu? Kedua gadis yang beruntung itu. Ah.. Tidak. Tetapi, malang ya itu yang tepat. Akan mendapatkan hukuman mereka. Mengerjakan tugas Fisika sepuluh kali lipat dari tugas sebelumnya.
Dengan pasrah Nimona dan Fairy keluar kelas. Ada gurat penyesalan dari kedua wajah gadis tersebut. Apalagi Fairy, ingin rasanya ia mengomel pada sahabat yang ada disebelahnya tersebut.
"Sial banget sih. Kenapa harus dikeluarin gini. Gara-gara lo sih." Fairy menyalahkan Nimona. Nimona malah asyik celingak celinguk mencari sesuatu di sekitar koridor.
"Eh.. Lo malah diem sih." Fairy mencubit lengan Nimona dengan mata yang melotot kesal.
"Sorry deh. Tapi, kan... Eh lihat tuh ada Rangga." Nimona berkata antusias saat melihat beberapa cowok berpakaian olah raga melintas menuju lapangan.
Tangan Nimona menunjuk ke arah cowok bernama Rangga. Fairy sudah dapat menebak yang mana sosok Rangga. Karena, dari beberapa cowok yang melintas tersebut. Sangatlah tak asing baginya dan hanya sosok pria berpipi tembem -Rangga- yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
"Sini! Ayo ikut gue." tanpa komando lagi Nimona menarik paksa Fairy agar megikuti langkahnya.
"Lo gila apa? Sembunyi dibalik semak-semak kaya gini. Lo pikir enak?" cerocos Fairy sembari menyibakkan daun pohon didepannya.
"Sstt.. Diem kenapa sih?" Nimona terus memperhatikan gerak gerik para siswa yang sedang pelajaran olah raga dari balik semak-semak.
Fairy hendak berdiri. Namun, dengan sigap tangan Nimona menenggelamkan kepala Fairy dalam persembunyiannya di semak-semak. Bibir Fairy tampak kesal. Apalagi tanpa sengaja tangan Nimona telah sukses membuat rambutnya berantakan.
Masih kesal dengan aksi Nimona tadi. Fairy langsung mengambil posisi duduk diatas rumput. Ia menoleh sebentar pada Nimona yang terlihat masih mengamati para siswa yang sedang berolah raga. Kemudian ia pun mengambil handphone dari saku roknya dan memilih untuk bersms ria tanpa memperdulikan Nimona.
Sejam kemudian Nimona telah puas dengan apa yang baru saja ia lihat. Dengan langkah yang santai ia melangkah di koridor bersama Fairy.
"Gue puas banget." ucap Nimona dengan langkahnya yang terus berayun.
"Lo puas, gue menderita di gigit semut." runtuk kesal Fairy. Nimona langsung menoleh dan meringis.
"Kenapa lo? Puas kan?" Fairy melotot. Dan kembali melangkahkan kakinya. Nimona langsung melangkah menyejajari Fairy.
"Sorry.. Sorry deh." Nimona memohon.
"Nggak, gue maafin. Lo udah bikin sial gue dua kali." Fairy terus melangkah.
"Ayolah! Please! Gue janji deh gue bakal... Em.. Gue kerjain tugas Fisika lo." ujar Nimona spontan. Fairy langsung menoleh. Berpikir sejenak kemudian tersenyum.
"Oke. Gue maafin lo." Fairy tersenyum. Namun, beda dengan ekspresi Nimona yang mendadak menyesal karena ucapannya tadi. Tapi, kelapa telah menjadi santan. Kata-katanya tadi sudah deal. Dengan terpaksa ia akan mengerjakan tugas Fairy.
***
"Sampai kapan lo gini terus? Udah dua bulan ini lo cuma perhatiin Rangga dari jauh." tanya Fairy pada Nimona.
"Em.. Gue nggak tahu. Gue malu mau ajak dia kenalan." jawab Nimona.
Fairy menghela nafas sebentar.
"Kenapa nggak nyari cowok lain sih? Disini kan cowok nggak cuma dia."
Nimona langsung menoleh pada Fairy.
"Gue tuh sukanya sama dia. Ya walaupun... " Nimona teringat kata-kata temannya yang bernama Rieka. Rieka adalah teman smpnya yang kebetulan sekelas dengan pangeran pujaannya. Dari Rieka lah ia tahu banyak tentang Rangga.
Rangga Dewamoela Soekarta adalah murid pindahan yang baru tiga bulan lalu pindah di sekolah Nimona. Sifatnya sangat dingin dan lebih banyak diam. Menurut info dulunya Rangga adalah murid yang bandel dan sangat nakal. Bahkan ia tak pernah absen dalam kegiatan tawuran. Begitulah menurut penuturan Rieka pada Nimona. Nimona sempat kaget mendengar semua itu. Ia sama sekali tak menyangka pangeran pujaannya yang dulunya punya masa lalu kelam. Namun, yang namanya suka. Mau diapakan lagi. Nimona telah dibutakan oleh cinta. Ia tetap menyukai Rangga apa adanya.
***
Nimona langsung menghentikan langkahnya ketika orang yang ada didepannya berhenti. Sosok itu menoleh dan mendapati dirinya yang sedari tadi kepergok membuntuti sosok itu.
Tatapan tajam cowok didepan Nimona telah membiusnya seketika. Wajah yang dingin yang terlihat teduh membuat Nimona terpaku. Perlahan cowok tembem yang tak lain adalah Rangga melangkah padanya.
"Lo bisa nggak sih nggak ngikutin gue?" Rangga berkata dingin.
"G.. Gue.. " Nimona tak mampu menjawab.
"Gue bukan artis yang bisa lo perhatiin setiap hari. Berhenti urusin kehidupan gue. Gue nggak suka." Rangga tetap dingin. Kemudian membalik badanya melangkah pergi. Baru beberapa langkah Rangga berjalan. Nimona berteriak padanya.
"Rangga.. Gue suka sama lo." kalimat itu meluncur mulus begitu saja dari mulutnya. Nimona langsung menutup mulutnya dengan tangan. Ia tak menyangka akan berkata begitu.
Rangga langsung menoleh. Air mukanya tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Sayang, gue nggak suka lo." kalimat itulah yang keluar dari mulut Rangga. Ia pun melanjutkan langkahnya tanpa rasa bersalah.
Jeblerr..
Bagai tersambar petir di siang bolong. Itulah yang dirasakan Nimona sekarang. Kalimat yang dilontarkan Rangga berhasil membuatnya diam terpaku. Sakit. Pastilah itu yang ia rasakan. Tak terasa air matanya mengalir begitu saja.
***
"Gue benci Rangga. Gue benci... Hiks.." Nimona menangis dipelukan Fairy. Sudah dua hari ini ia tak berangkat kesekolah.
"Cowok sombong. Dia pikir dia siapa? Dasar jahat." umpat Nimona lagi.
"Cup. Cup. Cup. Udahlah Mon, jangan terlalu dipikirin cowok kaya dia. Lo harus kuat!" Fairy membelai lembut rambut sahabatnya. Nimona terdiam masih dengan tangisannya.
"Harusnya gue tuh tahu diri. Dia tuh emang cowok jahat. Gue benci dia... "
***
Dua hari Nimona tidak bersekolah setelah kejadian menyakitkan itu. Ia pun bangkit dari keterpurukan. Dalam benaknya ia berjanji akan melupakan cowok dingin dan menyebalkan itu dari hatinya.
Seminggu setelah itu Nimona, sudah ceria lagi seperti sedia kala. Ia benar-benar telah melupakan hal yang berhubungan dengan Rangga. Ia tak mau lagi menjadi penggagum Rangga. Itu lah yang ia lakukan untuk menata kembali hatinya.
Nimona berjalan santai diantara lalu lalang para siswa siswi lain. Tiba-tiba tak sengaja matanya bertemu dengan mata dingin Rangga. Tanpa berpikir panjang ia langsung melengos begitu saja.
***
Sore yang begitu sejuk bersama angin yang menerpa tubuhnya Nimona berdiri dipinggir jalan menunggu angkutan umum. Semua tampak sepi karena sebagian besar murid telah pulang. Ia tetap berdiri dengan kesendiriannya. Tatapan matanya tiba-tiba saja terusik oleh seseorang yang melintas didepannya. Tanpa ia pedulikan Nimona tetap diam tak bergeming.
Kemudian ia memilih untuk melangkah meghindar dari sosok yang ternyata mencuri padang padanya. Nimona tetap melangkah.
"Semudah itu lo lupain gue?" sosok itu berkata dan membuat Nimona menoleh pada sosok tersebut.
"Apa peduli lo? Cowok sombong!" ucap Nimona. Begitu bencinya ia pada sosok yang tak lain adalah Rangga. Cowok yang pernah ia kagumi. Setiap harinya tak kenal waktu menyelinap dihatinya. Membayang dalam pikirannya. Dan membuatnya buta dengan apapun.Kenapa harus kembali dengan pertanyaan sepele? Setelah kata-kata menyakitkan itu membuat Nimona begitu membenci sosok yang pernah dikagumi itu.
"Nimona... " lirih Rangga. Kali ini air mukanya tak sedingin sebelumnya.
Nimona terperanjat tak percaya Rangga bisa tahu namanya. Padahal sebelumnya mereka tak saling mengenal.
"Gue selalu perhatiin lo. Lo yang selalu tiba-tiba menatap gue tanpa sengaja gue tahu. Lo yang selalu ingin tahu siapa gue. Lo yang diem-die selalu ngikutin gue. Dan... Semuanya yang lo lakuin karena gue. Gue merasa ada yang hilang tanpa lo." ujar Rangga.
Nimona benar-benar terdiam tak percaya Rangga bisa berkata seperti itu. Apa artinya Rangga merasa kehilangan dirinya?
"Kenapa lo bisa suka sama gue?" Rangga bertanya.
Nimona tak mejawab. Sesungguhnya pertanyaan itu sangat ia benci. Nimona bahkan telah mencoba mengubur semua rasa yang pernah ada untuk Rangga.
"Apa yang lo lihat dari gue? Gue cowok nggak bener. Masa lalu gue kelam. Bahkan banyak orang yang menderita karena gue. Gue nggak pantes dapat perhatian dari cewek seperti lo." Rangga mengambrukkan dirinya duduk di trotoar pinggir jalan. Ia menunduk menjambak rambut pendeknya.
Nimona terpaku melihat Rangga. Terlihat jelas cowok dingin didepannya itu perlahan menitihkan air mata. Nimona ikut duduk disamping Rangga.
"Semua orang didunia ini bisa berubah. Orang baik bisa jadi jahat dan sebaliknya. Gue yakin lo bukan orang jahat. Lo tetap baik di mata gue." kata-kata Nimona berhasil membuat Rangga menoleh padanya.
"Apa sekarang lo bener-bener membenci gue?" Rangga bertanya. Ia ingin mendapatkan jawaban langsung dari Nimona. Namun, gadis itu hanya diam.
Semenit. Dua menit. Masih hening.
Lima menit kemudian Rangga membuka mulut.
"Gue kehilangan lo. Dan mungkin sekarang gue udah terlambat kalau gue ngomong sama lo."
"Gue emang benci lo ngga. Tapi, hati gue nggak bisa bohong. Kalau ternyata gue masih suka sama lo. Sama orang yang selama ini gue kagumin." lirih Nimona.
"Maafin gue. Karena, selama ini gue nggak pernah ngehargain orang yang diam-diam kasih perhatian sama gue." jelas Rangga.
Nimona masih terdiam.
"Gue harap lo mau maafin gue. Dan setelah ini lo mau berteman sama cowok jahat kaya gue." Rangga berkata penuh harap. Ia menatap wajah Nimona yang berubah sendu itu. Sebuah senyum indah terukir dari wajah Nimona. Senyum dengan lesung pipit itu menambah manis wajah Nimona.
Tak kalah dengan Nimona, Rangga juga mengukir senyumnya sore itu. Itulah kali pertama Nimona bisa melihat cowok dingin yang ia kagumi tersenyum padanya sedekat ini.
Semua itu bukan mimpi lagi bagi Nimona. Sesuatu yang dulu ia impikan. Dekat dengan orang yang ia sukai. Dan ini terbukti sekarang. Ia berada dekat dengan Rangga. Disisi seseorang yang ia sukai.
-END-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar