![]() |
| Bisma Karisma |
Author: Chasfa Delion
Title: Seutuh Cintaku
Main cast:
- Theresia Kimmy Sandioriva as Tere
- Bisma Karisma as Bisma
- Felicia Adinda Renata as Felicia
Main cast:
- Theresia Kimmy Sandioriva as Tere
- Bisma Karisma as Bisma
- Felicia Adinda Renata as Felicia
*cerita ini hanya fiktif belaka*
Aku duduk termenung sendiri disini. Ditempat dimana aku selalu melakukan hal yang menyenangkan dengannya. Dengan orang yang sangat aku cintai. Tapi, kali ini berbeda ku rasa. Aku tak lagi merasakan kebahagiaan dengannya. Melainkan, kepedihan yang tiada terkira rasanya.
Aku masih terbisu. Sesekali kesengukan menahan tangis. Namun, sia-sia saja tangisku telah membanjir menganak sungai. Menyaksikan punggungnya yang semakin jauh meninggalkanku. Aku hanya bisa seperti ini. Menerima kenyataan pahit yang ku buat sendiri.
Ku sama sekali tak mengerti mengapa aku bisa berkata seperti itu. Aku menjadi gadis bodoh yang membiarkannya memilih cinta yang baru. Perasaan emosi yang membuatku seperti ini. Aku terah dibutai oleh kacaunya hatiku sendiri. Bahkan, aku telah berpura-pura tegar mengatakan semua itu. Namun, nyatanya aku menangis menatap kepergiannya. Itulah aku gadis yang terlalu lemah oleh cinta.
***
Semua berawal ketika aku mengenalkan Felicia sahabatku pada Bisma pacarku. Sore itu kami jalan bertiga semua nampak biasa saja. Aku sangat menikmatinya.
Sejalan dengan waktu aku merasakan kejangalan pada Bisma. Ia mulai sibuk dengan urusannya bahkan terkesan melupakanku.
" Sayang, kamu dimana?" ucapku ketika telfonku diangkat olehnya.
" Sorry, aku lagi sibuk. Telfonnya nanti aja ya. Bye..."
Seperti itulah ketika aku menelfonnya. Dia selalu meminta nanti, nanti, dan nanti. Aku bosan dengan kata-katanya seperti itu. Seolah dia tak peduli lagi denganku sebagai kekasihnya.
***
Seusai pulang sekolah aku pergi ke rumah sahabatku Felicia. Dengan masih mengenakan seragam abu-abu putih aku mengendarai mobilku menuju rumah Felicia. Beberapa meter sebelum tikungan menuju rumah sahabatku itu aku melihat mobil yang sangat aku kenali melintas di jalan. Tak salah lagi itu mobil Bisma.
Aku sedikit bingung. Mengapa Bisma bisa melintas di komplek perumahan Felicia? Sedangkan ku tahu betul sebelumnya ia tak pernah punya teman di sekitar sini. Dengan perasaan tenang aku kembali melajukan mobil. Dan sampailah aku di rumah Felicia.
Pintu rumahnya tertutup rapat seperti biasanya. Setelah itu aku keluar dari mobil dan memencet bel rumahnya. Beberapa menit kemudian pintu terbuka namun, bukan Felicia yang membukanya melainkan seorang wanita paruh baya yang sangat ku kenali yaitu mama Felicia.
" Sore tante, Felicianya ada?" tanyaku sembari tersenyum manis.
" Aduh, maaf sayang. Tapi, Felicianya baru aja tadi pergi." jawab mama Felicia.
" Pergi tante? Pergi kemana?"
" Kalau itu tante kurang tahu sayang. Tadi, dia pergi sama temen cowoknya. Kalau nggak salah namanya.... Bis... Bisma. Iya itu nama temennya."
Deg. Jantungku terasa berhenti. Rasanya sebuah pisau tajam telah mencabik-cabik hatiku. Sakitnya tiada terkira. Apakah mungkin Bisma setega itu? Ia selalu berkata sibuk tapi ternyata diam-diam jalan bersama sahabatku sendiri.
Ini bukan suatu kebetulan. Bukan juga sesuatu kejanggalan yang tak direncanakan. Jelas-jelas Bisma berkata dia sedang ada kegiatan sore ini. Aku pun masih menyimpan pesan singkatnya di handphoneku. Tapi, apa? Kenyataannya ia berbohong padaku.
***
Aku mengatur nafasku yang memburu tak beraturan. Kemudian mengendarai mobilku kembali. Aku tak ingin lekas pulang. Ku putar arah laju mobilku menuju tempat favoritku. Sebuah cafe dimana aku sering kesana bersama Bisma.
Sesampainya disana aku langsung memesan juice strawberry kesukaanku. Aku duduk dengan suasana yang sedikit tenang. Pandanganku beredar kesemua penjuru cafe yang terbuka ini. Hingga terhenti pada satu titik yang membuat hatiku berubah memanas.
Ku lihat dari sini. Dari tempat duduku beberapa meter dari sini. Aku melihat Bisma dan Felicia tengah bercengkrama. Ku lihat tangan Bisma menyentuh lembut bibir Felicia. Seperti sedang membersihkan sesuatu dibibir Felicia. Begitu sebaliknya Felicia tanpa canggung menyuapi makanan pada Bisma. Mereka sangat mersra. Aku tak kuasa lagi menahan semua ini. Mataku memerah dan buliran-buliran bening jatuh seketika. Aku tak mau menambah buruk keadaanku disini. Aku memilih lari dan pergi meninggalkan tempat keji yang membuatku sakit hati.
***
Esok paginya Bisma menemuiku saat di sekolah.
" Hay.. sayang?" tangan Bisma merangkulku.
".... " tanpa kata-kata aku menepis tangannya.
" Kamu kenapa?" tanyanya mencegat langkahku.
Aku beralih pandang seolah tak peduli dengan pertanyaannya.
Tiba-tiba saja Felicia datang menghampiri kami. Dengan senyuman yang mengembang dibibirnya. Ku lihat Bisma membalas senyum sahabatku itu. Sahabat? Masih pantaskah orang yang menusukku dari belakang ku anggap sahabat?
Dan ini yang membuatku semakin sakit. Mereka bahkan tak merasa salah sedikit pun. Mereka berselingkuh di belakangku. Tapi, saat ini mereka.... Sungguh pintar mereka menyembunyikan semuanya.
Tanpa berkata lagi aku meninggalkan mereka tanpa permisi. Aku dengan sengaja menyenggol lengan Felicia sedikit keras. Aku tak peduli dengan suara Bisma yang memanggil namaku. Ku harap mereka menyadari semua sikap yang ku tunjukan ini.
Hatiku teramat panas dengan sikap kebohongan mereka. Penghianatan yang sahabatku sendiri lakukan. Arghh.... Aku membenci mereka.
***
Dihari berikutnya awan tampak mengitam. Padahal hari belum terlalu petang. Ini menandakan hujan yang akan segera turun. Aku duduk disebuah kursi taman sendirian. Aku termangu membisu melamun ditempat ini. Sekejap saja seseorang telah duduk disampingku.
" Tere." ia menyebut namaku. Aku tetap diam.
" Kenapa kamu seperti ini?" tanya Bisma lagi. Aku kesal dengan pertanyaannya. Apa dia tak mengerti?
Aku langsung menatapnya kesal penuh amarah dan kebencian.
" Kamu tanya kenapa aku seperti ini?" nada suaraku meninggi. Ku lihat Bisma terperanjat.
" Kamu pikir aku sebodoh itu kamu bohongi. Selama ini kamu berbohong sama aku. Kamu jalan kan sama Felicia. Iya kan?"
Aku pun berdiri. Aku tahu dia pasti kaget mendengarku membongkar semua kebohongannya.
Pintu rumahnya tertutup rapat seperti biasanya. Setelah itu aku keluar dari mobil dan memencet bel rumahnya. Beberapa menit kemudian pintu terbuka namun, bukan Felicia yang membukanya melainkan seorang wanita paruh baya yang sangat ku kenali yaitu mama Felicia.
" Sore tante, Felicianya ada?" tanyaku sembari tersenyum manis.
" Aduh, maaf sayang. Tapi, Felicianya baru aja tadi pergi." jawab mama Felicia.
" Pergi tante? Pergi kemana?"
" Kalau itu tante kurang tahu sayang. Tadi, dia pergi sama temen cowoknya. Kalau nggak salah namanya.... Bis... Bisma. Iya itu nama temennya."
Deg. Jantungku terasa berhenti. Rasanya sebuah pisau tajam telah mencabik-cabik hatiku. Sakitnya tiada terkira. Apakah mungkin Bisma setega itu? Ia selalu berkata sibuk tapi ternyata diam-diam jalan bersama sahabatku sendiri.
Ini bukan suatu kebetulan. Bukan juga sesuatu kejanggalan yang tak direncanakan. Jelas-jelas Bisma berkata dia sedang ada kegiatan sore ini. Aku pun masih menyimpan pesan singkatnya di handphoneku. Tapi, apa? Kenyataannya ia berbohong padaku.
***
Aku mengatur nafasku yang memburu tak beraturan. Kemudian mengendarai mobilku kembali. Aku tak ingin lekas pulang. Ku putar arah laju mobilku menuju tempat favoritku. Sebuah cafe dimana aku sering kesana bersama Bisma.
Sesampainya disana aku langsung memesan juice strawberry kesukaanku. Aku duduk dengan suasana yang sedikit tenang. Pandanganku beredar kesemua penjuru cafe yang terbuka ini. Hingga terhenti pada satu titik yang membuat hatiku berubah memanas.
Ku lihat dari sini. Dari tempat duduku beberapa meter dari sini. Aku melihat Bisma dan Felicia tengah bercengkrama. Ku lihat tangan Bisma menyentuh lembut bibir Felicia. Seperti sedang membersihkan sesuatu dibibir Felicia. Begitu sebaliknya Felicia tanpa canggung menyuapi makanan pada Bisma. Mereka sangat mersra. Aku tak kuasa lagi menahan semua ini. Mataku memerah dan buliran-buliran bening jatuh seketika. Aku tak mau menambah buruk keadaanku disini. Aku memilih lari dan pergi meninggalkan tempat keji yang membuatku sakit hati.
***
Esok paginya Bisma menemuiku saat di sekolah.
" Hay.. sayang?" tangan Bisma merangkulku.
".... " tanpa kata-kata aku menepis tangannya.
" Kamu kenapa?" tanyanya mencegat langkahku.
Aku beralih pandang seolah tak peduli dengan pertanyaannya.
Tiba-tiba saja Felicia datang menghampiri kami. Dengan senyuman yang mengembang dibibirnya. Ku lihat Bisma membalas senyum sahabatku itu. Sahabat? Masih pantaskah orang yang menusukku dari belakang ku anggap sahabat?
Dan ini yang membuatku semakin sakit. Mereka bahkan tak merasa salah sedikit pun. Mereka berselingkuh di belakangku. Tapi, saat ini mereka.... Sungguh pintar mereka menyembunyikan semuanya.
Tanpa berkata lagi aku meninggalkan mereka tanpa permisi. Aku dengan sengaja menyenggol lengan Felicia sedikit keras. Aku tak peduli dengan suara Bisma yang memanggil namaku. Ku harap mereka menyadari semua sikap yang ku tunjukan ini.
Hatiku teramat panas dengan sikap kebohongan mereka. Penghianatan yang sahabatku sendiri lakukan. Arghh.... Aku membenci mereka.
***
Dihari berikutnya awan tampak mengitam. Padahal hari belum terlalu petang. Ini menandakan hujan yang akan segera turun. Aku duduk disebuah kursi taman sendirian. Aku termangu membisu melamun ditempat ini. Sekejap saja seseorang telah duduk disampingku.
" Tere." ia menyebut namaku. Aku tetap diam.
" Kenapa kamu seperti ini?" tanya Bisma lagi. Aku kesal dengan pertanyaannya. Apa dia tak mengerti?
Aku langsung menatapnya kesal penuh amarah dan kebencian.
" Kamu tanya kenapa aku seperti ini?" nada suaraku meninggi. Ku lihat Bisma terperanjat.
" Kamu pikir aku sebodoh itu kamu bohongi. Selama ini kamu berbohong sama aku. Kamu jalan kan sama Felicia. Iya kan?"
Aku pun berdiri. Aku tahu dia pasti kaget mendengarku membongkar semua kebohongannya.
" Kenapa kamu nggak pernah bilang kalau kamu bosan sama aku. Kenapa harus dibelakang aku kamu seperti ini. Aku sakit Bis...." aku menunjuk dadaku. Tepat di jantungku yang terasa sakit sekali.
" A.. Aku bisa jelasin Ter..." ucap Bisma terbata.
" Aku nggak perlu penjelasan dari kamu. Semuanya udah cukup sakit buat aku. Dan kalau kamu memang udah bosen sama aku. Kamu boleh putusin aku. Setelah itu kamu lanjutin hubungan kamu sama Felicia." entah ada setan dari mana yang merasuki diriku. Hingga aku berani mengatakan hal yang sungguh menyakitkan untuku.
" Tere, maafin aku. Aku sayang sama kamu." ia memegang kedua lenganku. Aku menepisnya, mataku sama sekali tak menatapnya.
" Sekarang kamu boleh pergi!" usirku pada Bisma.
" Tere, please!" pintanya.
" Aku mau kamu pergi Bisma!" bentaku lagi. Ia terdiam kemudian melangkah pergi. Tiga langkah ia berjalan ku lihat dia menengok padaku. Aku tak peduli. Beberapa detik ia semakin menjauh aku melihat punggungnya yang semakin mengilang.
Ku hempaskan tubuhku duduk dikursi. Aku menunduk pasrah dengan kata-kataku tadi. Aku telah mengusirnya. Membiarkannya pergi dariku meninggalkanku. Buliran-buliran hangat tumpah menyeruak dari mataku. Aku menyesal telah membiarkannya pergi. Tapi, itu lebih baik daripada aku harus melihat wajahnya yang membuat ku semakin sakit.
***
Semakin ku ingkari, semakin ku mengerti
Hidup ini tak lengkap tanpamu
Aku mengaku bisa tapi hati tak bisa
Sesungguhnya ku pura-pura
Relakan kau pilih cinta yang kau mau
Sesungguhnya ku tak pernah rela
Karena ku yang bisa membuat hatimu utuh
Sakit yang kurasa, bukan karena dia
Tapi, karena kau pilg cinta yang salah
Aku mengaku bisa tapi tak bisa
Ku akui sesungguhnya aku berpura-pura
Relakan kau pilih cinta yang kau mau
Tak bisa ku biarkan kau tersiksa
Disisihkan cinta bertahta
Ku katakan padamu ditempatmu dihati
Cintaku membuatmu utuh
(Tangga-Utuh)
" Tere." ku lihat Felicia dengan mata berkaca menghampiriku.
Aku tak menatap dirinya. Sebaliknya aku pura-pura tak tahu.
" A.. Aku bisa jelasin Ter..." ucap Bisma terbata.
" Aku nggak perlu penjelasan dari kamu. Semuanya udah cukup sakit buat aku. Dan kalau kamu memang udah bosen sama aku. Kamu boleh putusin aku. Setelah itu kamu lanjutin hubungan kamu sama Felicia." entah ada setan dari mana yang merasuki diriku. Hingga aku berani mengatakan hal yang sungguh menyakitkan untuku.
" Tere, maafin aku. Aku sayang sama kamu." ia memegang kedua lenganku. Aku menepisnya, mataku sama sekali tak menatapnya.
" Sekarang kamu boleh pergi!" usirku pada Bisma.
" Tere, please!" pintanya.
" Aku mau kamu pergi Bisma!" bentaku lagi. Ia terdiam kemudian melangkah pergi. Tiga langkah ia berjalan ku lihat dia menengok padaku. Aku tak peduli. Beberapa detik ia semakin menjauh aku melihat punggungnya yang semakin mengilang.
Ku hempaskan tubuhku duduk dikursi. Aku menunduk pasrah dengan kata-kataku tadi. Aku telah mengusirnya. Membiarkannya pergi dariku meninggalkanku. Buliran-buliran hangat tumpah menyeruak dari mataku. Aku menyesal telah membiarkannya pergi. Tapi, itu lebih baik daripada aku harus melihat wajahnya yang membuat ku semakin sakit.
***
Semakin ku ingkari, semakin ku mengerti
Hidup ini tak lengkap tanpamu
Aku mengaku bisa tapi hati tak bisa
Sesungguhnya ku pura-pura
Relakan kau pilih cinta yang kau mau
Sesungguhnya ku tak pernah rela
Karena ku yang bisa membuat hatimu utuh
Sakit yang kurasa, bukan karena dia
Tapi, karena kau pilg cinta yang salah
Aku mengaku bisa tapi tak bisa
Ku akui sesungguhnya aku berpura-pura
Relakan kau pilih cinta yang kau mau
Tak bisa ku biarkan kau tersiksa
Disisihkan cinta bertahta
Ku katakan padamu ditempatmu dihati
Cintaku membuatmu utuh
(Tangga-Utuh)
" Tere." ku lihat Felicia dengan mata berkaca menghampiriku.
Aku tak menatap dirinya. Sebaliknya aku pura-pura tak tahu.
" Maafin gue Ter, gue sahabat yang jahat." Ia langsung memeluku. Aku tak membalas pelukannya. Aku terlalu kecewa dengan penghianatannya.
" Gue nggak bisa pungkirin kalau gue sayang sama Bisma. Tapi, gue lebih sayang sama persahabatan kita. Bisma sayang sama lo Ter... Gue mohon lo kembali sama dia."
Tangis Felicia pun pecah. Ku lepaskan pelukannya. Aku menatap tajam sahabat yang menusukku itu.
Beberapa saat kemudian Bisma datang diantara kami. Felicia langsung menarik tangan Bisma. Kemudian menyatukan tangan Bisma dengan tanganku.
" Gue mohon Ter, maafin gue sama Bisma. Gue mau kalian bersatu."
Mendengar kata-kata Felicia tiba-tiba saja aku luluh. Mataku berkaca. Felicia terus menatapku penuh harap.
" Gue nggak mau dihari terakhir gue disini. Gue menghancurkan kebahagiaan kalian."
Aku terkejut dengan kata-kata Felicia. Apa maksudnya?
" Besok gue akan pindah sekolah keluar negeri." Felicia menunduk pasrah. Hatiku kembali luluh. Aku merasa kehilangan sahabatku sendiri. Aku pun memeluk Felicia dengan tangisku yang pecah. Ia membalas pelukanku.
" Apa lo mau maafin sahabat sejahat gue Ter?"
Aku menggangguk. Kemudian ku lepaskan pelukanku. Ku lihat senyum dari bibirnya.
" Gue mau kalian bersama lagi." Felicia menyatukan tanganku dan Bisma kembali.
" Gue sayang kalian berdua." ujar Felicia dengan senyum manisnya. Kemudian beranjak pergi meninggalkan ku dan Bisma.
" Maafin aku Ter." Bisma memelukku. Ku balas pelukannya sembari mengangguk.
" Makasih sayang." ucapnya setengah berbisik.
-END-
" Gue nggak bisa pungkirin kalau gue sayang sama Bisma. Tapi, gue lebih sayang sama persahabatan kita. Bisma sayang sama lo Ter... Gue mohon lo kembali sama dia."
Tangis Felicia pun pecah. Ku lepaskan pelukannya. Aku menatap tajam sahabat yang menusukku itu.
Beberapa saat kemudian Bisma datang diantara kami. Felicia langsung menarik tangan Bisma. Kemudian menyatukan tangan Bisma dengan tanganku.
" Gue mohon Ter, maafin gue sama Bisma. Gue mau kalian bersatu."
Mendengar kata-kata Felicia tiba-tiba saja aku luluh. Mataku berkaca. Felicia terus menatapku penuh harap.
" Gue nggak mau dihari terakhir gue disini. Gue menghancurkan kebahagiaan kalian."
Aku terkejut dengan kata-kata Felicia. Apa maksudnya?
" Besok gue akan pindah sekolah keluar negeri." Felicia menunduk pasrah. Hatiku kembali luluh. Aku merasa kehilangan sahabatku sendiri. Aku pun memeluk Felicia dengan tangisku yang pecah. Ia membalas pelukanku.
" Apa lo mau maafin sahabat sejahat gue Ter?"
Aku menggangguk. Kemudian ku lepaskan pelukanku. Ku lihat senyum dari bibirnya.
" Gue mau kalian bersama lagi." Felicia menyatukan tanganku dan Bisma kembali.
" Gue sayang kalian berdua." ujar Felicia dengan senyum manisnya. Kemudian beranjak pergi meninggalkan ku dan Bisma.
" Maafin aku Ter." Bisma memelukku. Ku balas pelukannya sembari mengangguk.
" Makasih sayang." ucapnya setengah berbisik.
-END-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar