Halaman

Senin, 30 Juli 2012

Cerita dalam Keheningan


 Setelah membaca novel dari Zara Zettira ZR yang berjudul Every Silence Has A Story atau dalam versi bahasa Indonesianya berjudul Cerita Dalam Keheningan. Saya merasa sangat kagum dengan karyanya. Ceritanya mengalir dengan bagus. Meskipun pada awalnya saya sedikit pesimis untuk membaca. Karena alasannya terlalu banyak narasi. Tapi setelah dibaca, ternyata tidak sejenuh yang saya bayangkan. Justru saya begitu takjup dan ingin lekas merampungkannya. Ada banyak hal dari novel ini yang membuat saya tertegun. Dari yang saya baca, saya menemukan banyak pelajaran dari novel ini. Tidak hanya itu saja, saya juga sangat suka dengan kalimat-kalimat yang tertulis. Dan di bawah ini saya cuplikan salah satu diantaranya.

Versi Bahasa Indonesia
Cerita Dalam Keheningan, terdapat pada halaman 18.

Di dalam otakku, ada sebuah pohon yang luar biasa besarnya dengan ratusan cabang. Dan, dari ratusan cabang itu tumbuh rentetan cabang-cabang lainnya yang lebih kecil. Persis seperti pohon besar yang sudah sangat tua. Seperti pohon beringin tua! Bedanya, pohon di dalam otakku tidak pernah menua. Cabang dan daunnya tidak pernah rontok dan jatuh ke tanak. Tidak ada musim semi atau musim gugur. Cabang-cabangnya terus saja tumbuh. Namun, saat ini tidak ada lagi ruang yang tersisa untuk jutaan cabang-cabang itu dalam otakku. Cabang-cabang itu mulai saling membelit satu sama lain dan saling menekan hingga aku dapat merasakan sakitnya. Aku jadi takut akan mati karenanya. Ternyata, berpikir terlalu banyak sangat menyiksaku.



Dalam versi Bahasa Inggris, buku novel ini berjudul Every Silence Has A Story.
Cuplikannya terdapat pada halaman 12.

Inside my brain, there is one big huge tree with hundreds of branches. And from those hundreds of branches come out smaller branches. You know, just like a big old tree. The difference is the tree in my brain seems like it will never get old. Even if it does, its leave sand branches will never fall off. There are no seasons of fall or spring. It just keeps on growing and growing. Ant this point, those branches--millions of them--have neither more room nor space to grow. They started to get twisted on each other. Pressing so hard on each other that I could even feel the pain. And I was afraid that I would die from it. I get so much pain from thinking to much.


Nah, seperti itulah kurang lebih yang tertulis pada novel tersebut. Mengapa saya begitu tertarik memberikan contoh cuplikan paragraf tersebut? Jawabannya, karena saya merasa seperti itulah yang selama ini saya rasakan.

Salam hangat,
Chastfa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar