Halaman

Rabu, 09 November 2011

Sweet Sixteenth (CERPEN)

Add caption

Udara terasa panas karena siang itu begitu terik. Sinar matahari tak hentinya memancarkan kilaunya. Membuat kulit terasa terbakar akibat sinar ultraviolet. Seorang gadis tengah berjalan menapaki koridor sebuah sekolah. Kakinya terus berayun mengikuti arah tatapan matanya. Sesekali ia mengelap peluh yang sedari tadi menetes tanpa henti.

Pandangan matanya terhenti pada sebuah bola yang tak henti-hentinya meluncur mulus masuk ke dalam ring. Tampak dari situ gadis itu melihat seorang pria yang sedang memainkan bolanya. Gadis itu menarik sudut bibirnya membentuk senyum sinis seperti meremehkan.

" Dasar cowok aneh." gerutu gadis itu masih menatap pria yang tengah memainkan bola basketnya. Dalam panas terik matahari yang tepat berada diposisi tengah bumi pria itu tak menghentikan kegiatanya memainkan bola basket.

Beberapa detik kemudian tanpa disangka ternyata pria itu beralih menatap. Entah karena ucapan gadis itu yang dapat di dengar. Atau hanya kebetulan saja. Tapi, langkah pria itu semakin mendekati gadis itu. Hingga akhirnya mereka sekarang tengah berhadapan.

" Kenapa lo perhatiin gue kaya gitu? Baru sadar kalau gue keren? Dan sekarang lo sadar kalau lo ternyata ngefans sama gue?" pria itu tersenyum sombong. Tampak si gadis menyipitkan mata.

" Ngimpi lo! Ogah banget ngefans sama cowok songong kaya lo. Rafael!" tegas gadis itu menyebut nama si pria. Kemudian melengos dan pergi meninggalkan Rafael yang masih mematung dengan seribu pertanyaan dalam benaknya.

Rafael masih berdiri sembari menatap punggung gadis itu yang semakin mengilang. Tangan kanannya mendrible bola basket dengan pelan di lantai. Sebenarnya hal itu tak boleh ia lakukan. Bisa saja seorang guru tiba-tiba melintas dan menegurnya karena ia salah tempat. Lantai koridor bukan tempat yang tepat untuk bermain basket. Apalagi Rafael adalah ketua osis. Sangat tidak pantas bila ia di tegur karena hal sepele seperti itu. Namun, semua itu sama sekali tak ia pikirkan. Pandangannya tetap tak beralih pada gadis itu.

" Gue kira lo bakal berterima kasih. Ternyata lo nggak berubah." ucap pelan Rafael.

***

Seorang gadis tampak sumringah kemudian bangkit dari tempat duduknya.

" Dari mana aja sih lo?" tanya gadis itu pada seseorang yang sekarang mengambil posisi duduk disebelahnya.

" Jalan-jalan." jawabnya singkat.

" Raf, gue serius."

" Gue juga serius, Fairy." Rafrie beralih menatap Fairy dengan wajah meyakinkan.

" Lo udah ketemu kak Rafael? Terus bilang makasih sama dia."
Rafrie langsung melengos.

" Buat apa?" Rafire berkata cuek dengan bibirnya yang menyunging.

" Astaga! Gue kan udah cerita sama lo kemarin. Lo lupa atau belaga lupa sih?" Fairy membesarkan volume suaranya. Hingga membuat penghuni kelas yang lainnya beralih menatapnya. Fairy langsung terseyum meringis pada teman-temannya. Bermaksud meminta maaf telah menimbulkan suara berisik. Kemudian kembali pada Rafrie berharap mendapatkan jawaban dari gadis itu.

" Gue nggak percaya tuh cowok ikhlas nolong gue. Pasti cuma cari muka aja. Tadi ketemu aja tetep songong kaya biasanya."

" Tapi, dia udah nolongin lo Raf. So.. Lo harus bilang makasih sama dia!" tegas Fairy.

" Enggak!" tolak Rafrie.

" Lo harus mau!"

" Sekali enggak ya enggak."

" Ikh.. Lo ngeyel banget sih. Dia kaya gitu sama lo karena dia suka sama lo Raf! Ups... " Fairy langsung menutup mulutnya. Rafrie menatap Fairy penuh tanda tanya berharap kata-kata Fairy tadi salah bagi pendengarannya itu.

" Lo tadi ngomong apa?"

" Kak Rafael suka sama lo."

" Hah? Rafael? Cowok songong, nyebelin, belagu gitu. Jangan ngarang deh. Dia itu musuh gue Fairy." Lagi-lagi Rafrie tak percaya.

Sedetik kemudian tanpa ada balasan dari Fairy percakapan itu terhenti. Bu Lina, guru Sejarah yang terkenal galak itu tiba-tiba masuk kelas. Dan dapat dipastikan semua murid langsung tenang tak ada yang berani membuka mulut termasuk Fairy dan Rafrie.

***
Cieettt...

Suara mobil yang tiba-tiba mengerem mendadak memekikan telinga. Tanpa sadar Rafrie menutup mata dengan kedua tangan menutupi telinganya. Sesuatu telah membuatnya lolos dari maut. Tubuhnya terhuyung hingga jatuh pada tepi jalan karena hampir saja sebuah mobil menabraknya.

Mobil itu berhenti sejenak kemudian berlalu melaju kembali. Rafrie perlahan membuka matanya. Ternyata ia tak sendiri ada orang lain yang berada didepannya dengan posisi terjatuh seperti dirinya. Mungkin seseorang itu yang telah menolong dirinya.

Tatapan matanya terhenti pada sosok yang ada dihadapannya. Mulutnya sulit terbuka untuk berucap.

" Eh.. Lo tuh lihat nggak sih tadi ada mobil? Apa lo sengaja mau bunuh diri?" suara itu membuyarkan lamunan Rafrie. Semburat wajah kekesalan tiba-tiba saja terpancar dari Rafrie. Kemudian ia bangkit diikuti seseorang yang menolongnya tadi.

" Kalau lo nggak ikhlas ya udah. Kenapa lo nolongin gue tadi? Hah?" Rafrie menumpahkan segala emosinya pada sosok itu. Kemudian membalikkan badannya bermaksud pergi. Namun, sebuah tangan lembut menahannya untuk pergi.

" Raf!" suara lembut itu memanggil namanya.

" Gue.. Gue nggak bermaksud ngomong gitu." lanjutnya. Rafrie langsung beralih menatap sosok yang telah menahannya tadi. Di lihatnya wajah itu dengan berbagai pertanyaan yang terlintas di benaknya. Beberapa detik kemudian ia menunduk. Tak kuasa dirinya untuk menatap lagi sosok didepannya. Wajahnya memanas dan setetes demi setetes air matanya jatuh terkulai.

" Makasih Raf." ucapnya singkat.

" Buat apa?" sosok yang ternyta Rafael bertanya. Sebenarnya ia tahu jawaban Rafrie tapi ia ingin tahu jawaban dari mulut gadis itu sendiri.

" B..buat semua yang udah lo lakuin buat gue. Nolongin gue pas hampir tenggelam di kolam dan sekarang. Lo udah nyelamatin hidup gue dua kali." ujar Rafrie dengan wajah menunduk. Ia tak menyangka kalimat itu akan terucap begitu saja dari bibirnya. Dan yang paling membuatnya sedikit kecewa kali ini ia benar-benar meneteskan air mata. Lebih tepatnya menangis.
Padahal orang yang tengah ada di hadapannya adalah seseorang yang selama ini ia anggap sebagai musuh.

Rafie tak menyangka seorang Rafael yang sejak pertama kali mereka bertemu selalu saja bertengkar. Ternyata mempunyai sisi baik juga. Rafael rela menolongnya saat ia hampir tenggelam di kolam karena ulah kakak kelas yang membenci dirinya. Dan baru saja ini Rafael juga telah meloloskan dirinya dari maut.

***

Semenjak kejadian hari itu Rafrie sedikit melunak pada Rafael. Tak ada lagi tatapan-tapapan sinis, kebencian, maupun pertengkaran antara dirinya dengan Rafael. Mereka sekarang telah berteman. Ada hal yang lain yang membuatnya sulit tidur sekarang. Bayang-bayang sosok Rafael telah menghantuinya. Apalagi semenjak kata-kata Fairy beberapa waktu lalu yang mengatakan Rafael menyukai dirinya. Hatinya tambah kacau.

Jantungnya memompa cepat ketika berhadapan dengan Rafael. Entah apa yang membuatnya seperti itu. Namun, ia terasa nyaman bila berada didekat Rafael.

***

" Raf, gue sayang sama lo." tegas Rafael saat berada di Lapangan basket sore itu. Membuat langkah Rafrie terhenti seketika.
Rafael menghentikan langkahnya saat telah sejajar dengan Rafrie.

" Lo mau kan terima gue?" Rafael meyakinkan.

" Sorry Raf, kita baru aja deket. Gue nggak bisa." jawabnya kemudian belalu pergi.

Rafrie memejamkan matanya sembari terus melangkah meninggalkan Rafael. Hatinya meronta menerima semua perkataannya tadi. Ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Seperti tak rela mengatakan semua itu pada Rafael. Ada hal yang lain yang membuatnya sedikit kecewa dengan ucapanya.

***

25 September, hari dimana Rafrie merasa bahagia. Hari ini adalah perayaan ulangtahunnya yang ke 16. Sebuah pesta di adakan di rumah omanya. Beberapa teman dan sahabat-sahabat dekatnya telah hadir diperayaan hari jadinya tersebut.

Berbagai ucapan selamat membanjiri dirinya semenjak tadi. Namun, itu tak membuat senyumnya begitu sangat terkembang. Ada hal lain yang ditunggunya dari tadi. Ia sama sekali tak melihat sosok Rafael.

‎" Raf, lo kenapa?" Fairy tiba-tiba saja datang. Ia heran melihat Rafrie sepupunya sekaligus sahabatnya itu begitu tak bersemangat menikmati pesta.

" Gue nggak apa-apa kok." Rafrie tersenyum tipis.

" Nunggu kak Rafael ya?" Fairy menebak.

" Hah? Em.. Eng.. Enggak kok." jawabnya terbata-bata.

" Alah.. Nggak usah bohong deh gue tahu kok." Fairy tersenyum menggoda. Rafrie hanya memalingkan wajahnya yang tersipu.

" Hosh..hosh..hosh.. " Reza pacar Fairy tiba-tiba datang dengan tergopoh-gopoh dan nafasnya yang terdengar ngos-ngosan.

" Kamu kenapa sih? Kok lari-larian gitu?" Fairy kelihatan bingung dengan kedatangan pacarnya itu.

" Hosh.. Itu.. Hosh.. Raf Rafael.. Rafael kecelakaan." jawab Reza masih dengan nafas ngos-ngosan.

Rafrie langsung melotot kaget mendengar kalimat Reza. Begitu dengan Fairy yang terlihat ikut tercengang. Tanpa pikir panjang Rafrie langsung menyuruh Reza mengantarkannya ke rumah sakit tempat Rafael dirawat. Ia tak peduli lagi dengan pestanya tersebut. Pikirannya terus terfokus untuk segera sampai di rumah sakit dan mengetahui bagaimana keadaan Rafael.

***

Di sebuah rumah sakit yang cukup besar mobil Reza akhirnya terhenti. Tanpa pikir panjang Rafrie langsung masuk menuju ruang resepsionis untuk menanyakan ruang rawat Rafael. Setelah tahu ia pun langsung berhambur menuju ruang rawat yang di maksud di ikuti Fairy dan Reza dari belakang. Sampai akhirnya ia terhenti didepan sebuah kamar inap.

Perlahan langkahnya mencoba masuk ruangan. Namun, terhenti ketika seorang laki-laki berjas putih keluar dari kamar tersebut. Wajahnya terlihat sendu.

" Dok, gimana keadaan Rafael?" Rafrie langsung to the point. Raut wajahnya sangat khawatir dengan keadaan Rafael.

Dokter tersebut hanya diam tidak menjawab. Beberapa detik setelah itu dokter pun angkat bicara.

" Pasien telah kami pindahkan. Mari ikut saya!" Dokter itu pun membimbing Rafrie agar mengikuti langkahnya.

Dokter membuka ruangan yang sunyi tersebut untuk Rafrie. Diikuti Reza da Fairy dari belakang.

Jantung Rafrie terasa terhenti seketika. Ia tak menyangka tempat itu yang akan ditunjukan oleh dokter kepada dirinya. Diatas ruangan tersebut telah tertulis jelas nama ruangan tersebut 'KAMAR MAYAT'.

Rafrie berjalan pelan selangkah demi selangkah. Kakinya berat terasa untuk menapak memasuki ruangan itu. Dokter tersebut akhirnya berhenti disebelah ranjang dengan seseorang diatasnya lebih tepatnya mayat yang ditutup selembar kain putih panjang menutupi tubuh yang terbujur itu. Tangis Rafrie pun akhirnya tumpah juga.

Tangannya menggigit jari telunjuk dengan air mata yang terus mengalir. Membanjir hingga membasahi kedua belah pipinya. Isak tangisnya semakin menjadi ketika ia telah berada di samping tubuh yang tertutup kain putih itu.

Sang Dokter pun meninggalkan ruangan tersebut membiarkan Rafrie berada disitu. Reza dan Fairy berdiri diambang pintu. Seperti halnya Rafrie, Fairy pun ikut menangis menyaksikan semua itu. Reza berusaha menenangkan Fairy dalam pelukannya.

" Kenapa lo tinggalin gue Raf? Gue sayang sama lo. Lo bangun Raf! Gue mohon."
Rafrie tak sanggup lagi berdiri tubuhnya terkulai lemas tak berdaya. Tubuhnya pun ambruk terduduk dilantai dengan air matanya yang terus membanjir.
" Gue sayang sama lo Rafael." ucap Rafrie penuh penyesalan. Ia baru menyadari betapa sakitnya kehilangan orang yang sangat ia sayangi. Kalau saja waktu bisa diputar ia tak akan menolak cinta Rafael. Namun, sebaliknya ia ingin menerima Rafael. Karena sesungguhnya didalam hatinya ia mencintai Rafael. Dan mungkin penyesalan itulah yang hinggap pada dirinya sekarang. Ia telah kehilangan Rafael untuk selamanya.

‎" Yes! Berhasil." Reza mengucap lirih sambil terkikik menahan tawa. Fairy yang merasakan tubuh Reza yang bergetar langsung mendongak menatap pacarnya.

" Tuh.." Reza menunjuk seseorang yang berada diambang pintu. Fairy langsung membulatkan matanya melihat sosok yang ditunjuk Reza. Sebuah kata hampir terlontar dari bibirnya. Namun, sesegera mungkin  Reza membekap mulut Fairy. Kemudian menuntun Fairy agar segera keluar dari ruangan tersebut.

" Apa lo bisa ulangin kata-kata lo tadi?" suara itu sangat Rafrie kenal. Dalam tangisnya itu kemudian ia mengarahkan pandangannya pada sumber suara itu.

Apa ia tak salah lihat. Sosok Rafael yang tengah berdiri diambang pintu. Rafrie langsung berdiri menatap sosok misterius itu. Apakah itu arwah Rafael? Pandangannya beralih pada mayat yang terbujur kaku disebelahnya. Sosok yang menyerupai Rafael itu langsung mendekat dan kini berada dihadapan Rafrie. Tanpa basa basi sosok Rafael langsung menyibak kain putih yang menutupi mayat tersebut. Rafrie tercengang tak percaya ternyata yang sedari tadi tertutup kain adalah patung. Bukan mayat Rafael. Dan sekarang yang telah berada didepannya memang benar-benar Rafael yang masih hidup.

" Happy birthday Rafrie! Gue sayang sama lo." ucap Rafael kemudian memberikan sebuket bunga mawar merah kepada Rafrie. Senyum dibibir Rafael terpancar jelas. Rafrie masih membisu tak percaya.

" Lo mau kan terima gue? Karena gue tahu lo sayang sama gue." lanjut Rafael.

" Lo curang Raf! Kenapa lo bohongin gue? Kenapa Reza bilang lo kecelakaan." protes Rafrie.

" Gue nggak curang. Karena gue tadi emang kecelakaan. Tapi, gue kan nggak kenapa-kenapa. Lagian kenapa lo percaya gitu aja sama rencananya Reza. Jadi, gue nggak salah donk." Rafael tersenyum jahil.
Sejenak Rafrie terdiam. Ada benarnya juga kata-kata Rafael. Beberapa detik kemudian Rafrie tertawa kecil. Memikirkan kebodohannya tadi.

" So.. Lo mau kan terima gue? Karena lo udah ketahuan diem-diem sayang sama gue."

Rafrie langsung mengambil buket bunga mawar yang ternyata berjumlah 16.

Seperti ulang tahunnya hari ini yang ke 16.

" Siapa bilang gue mau." ucap Rafrie sok jual mahal. Rafael langsung menaikan sebelah alisnya pada Rafrie. Kemudian Rafrie beralih menatap Rafael sembari tersenyum.

" Gue mau Raf, karena gue juga sayang sama lo." Rafrie langsung menunduk tersipu. Rafael tersenyum mendengar kata-kata Rafael. Kemudian Rafael menenggelamkan Rafrie kedalam pelukannya dan mengecup kening Rafrie dengan lembut.

" Thanks Raf, lo udah buat hari ulang tahun gue begitu indah." lirih Rafrie dalam hati.



- END-

1 komentar:

  1. Best Casino Games near Washington, DC | Mapyro
    Best Casinos 세종특별자치 출장샵 in Washington, 경상남도 출장안마 DC. All around. Best Casino. 성남 출장샵 Visit 광주 출장마사지 Mapyro. Find the best casino games 전라남도 출장안마 nearby.

    BalasHapus